23 Mar 2011

Bencana Air, Kekalahan Cara Pandang Ekologis

Budi Widianarko
Guru Besar Toksikologi Lingkungan, Unika Soegijapranata
Andai naturalis Inggris, Alfred Russel Wallace, menyaksikan kehancuran ekosistem Daerah Aliran Sungai Citarum, mungkin dia akan meratap pilu.
Hampir satu setengah abad yang lalu (1869), Wallace dalam bukunya, The Malay Archipelago, begitu memuji Pulau Jawa. Begitu kagumnya kepada pulau ini, ia menulis ”Secara keseluruhan, ditilik dari sudut mana pun, Jawa boleh jadi pulau tropis yang paling indah dan menawan di dunia. Seluruh permukaannya secara menakjubkan dihiasi oleh pemandangan gunung dan hutan. Hujan yang melimpah dan suhu tropis yang hangat membuat gunung-gunung itu diselimuti oleh tetumbuhan nan lebat, tak jarang hingga ke puncak-puncaknya, hutan dan perkebunan menutup lereng-lereng yang lebih landai”.

Keadilan Ekologis

Keadilan Ekologis
Arif Satria
Dekan Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB
Ada dua momentum pada 22 April: "Hari Bumi dan Hari Terumbu Karang." Perserikatan Bangsa-Bangsa juga menetapkan tahun 2010 sebagai "Tahun Keragaman Hayati" dengan tema ”Biodiversity is Life, Biodiversity is our Life”. Ketiga momentum itu sangat penting untuk menanggulangi krisis ekologis yang terjadi.
Di Indonesia, terumbu karang yang sangat baik tinggal 6 persen. Padahal, terumbu karang memberi keuntungan ekonomi 1,6 miliar dollar AS per tahun (Tun et al, 2004). Hutan mangrove juga rusak. Stok ikan menipis. Bahkan, di dunia, 77 persen dari 441 spesies ikan sudah dalam lampu kuning. Belum lagi masalah pencemaran dan kerusakan ekologis akibat pertambangan dan aktivitas ekonomi lainnya. Bisakah konsep pembangunan berkelanjutan mengatasinya?

21 Mar 2011

Press Release KP3R

RUU Perumahan dan Permukiman;
Sudah Tak Berpihak, Malah Mengkriminalisasi
Rumah yang memadai/layak merupakan kebutuhan mendasar bagi setiap manusia. Sebagai bagian dari hak konstitusi dan hak asasi manusia, hak atas perumahan yang layak meletakkan beban kewajiban dipundak negara untuk memenuhi, menghormati dan melindungi hak tersebut. Namun upaya untuk memenuhi kewajiban ini tercatat selalu gagal dilakukan, Jumlah kekurangan rumah (backlog) selalu dialami setiap tahunnya, bahkan kekurangan ini terus terakumulasi dengan kebutuhan baru yang muncul dikemudian hari. Untuk menjawab permasalahan akut ini, DPR RI mencoba menginisiasi lahirnya sebuah kebijakan baru. RUU Perumahan dan Permukiman sebagai RUU usulan DPR ditetapkan sebagai prioritas dalam Program Legislasi Nasional 2010 untuk menggantikan Undang-Undang No. 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukima

20 Mar 2011

Orasi Hari Anti Pemiskinan 2009


Aksi Peringatan Hari Pemiskinan 2009
Sekber KPRM - Jaringan Rakyat Miskin Kota Makassar
Sembilan tahun lalu, september 2000, Indonesia tergabung dalam 189 negara yang menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) PBB tentang Tujuan Pembangunan Millenium (MDG’s) 2015. Negara partisipan MDG’s berkewajiban mencapai target penghapusan angka kemiskinan sebesar 50%.
Hari ini, Sabtu, 17 Oktober 2009, warga dunia beraksi memperingati Hari Anti Kemiskinan. Dan, detik ini, di sini, Indonesia, masih jauh dari target pengurangan angka kemiskinan 19 juta jiwa pada tahun 2015. Selama 9 tahun, pemerintah Indonesia hanya mampu mengurangi angka kemiskinan sekitar 6 juta jiwa. Koordinator Nasional Kampanye Millenium Development Goal`s (UNMC - United Nation Millenium Campaign) Wilson TP Siahaan di Jakarta (dalam situs beritabaru.com, 13/10) mengutip data BPS tahun 2000 bahwa angka kemiskinan di Indonesia mencapai 38,7 juta jiwa atau 19,1 persen dari total penduduk. Namun pada 2009, penduduk miskin di Indonesia berdasarkan data BPS yang terbaru masih berkisar 32,5 juta atau 14,15 persen. Dengan data ini saja, hampir mustahil pemerintah RI mencapai target sampai tahun 2015.

18 Mar 2011

Catatan dari Konferensi Jaringan Sosial Demokrasi Asia Ke-3


M. Nawir
J
akarta – Indonesia, 20 – 22 Oktober 2010 menjadi tuan rumah Konferensi Jaringan Sosial Demokrasi (Sosdem) Asia yang ketiga – The 3rd Asian Social Democracy Network Conference. Dihadiri 52 partisipan yang terdiri dari aktivis partai politik Sosdem dan aktivis gerakan sosial dari 10 negara Asia (Indonesia, Timor Leste, Malaysia, Filipina, Kamboja, Vietnam, Korea Selatan, India, Nepal, Mongolia), dan 2 dari Eropa (Jerman, Swedia). Konferensi ini diselenggarakan oleh Network on Social Democracy in Asia (NSDA), Institute for Welfare Democracy (IWD), Frederich Ebert Stiftung (FES) dan Olof Palme International Center (OPIC).
Wacana yang mengemuka adalah meretas jalan yang menghubungkan kepentingan rakyat dalam konteks pertentangan Sosialisme dan Demokrasi Liberal di Asia maupun Eropa. Tema ini mengantar partisipan dalam membangun perspektif ekonomi yang berkeadilan sosial dan bertanggung jawab terhadap keselamatan lingkungan hidup.

Kota dalam Bayang-bayang Bencana


M. Nawir
Aktivis Jaringan Rakyat Miskin Kota, Uplink Indonesia  
Harian FAJAR, KAMIS, 14 OKTOBER 2010
Tata kota dan pemerintahan yang baik menjadi prasyarat penting untuk menjamin keberdayaan rakyat dan keterlibatan mereka dalam pengembangan lingkungan perkotaan agar mereka tidak terpinggirkan dan terkena bencana akibat perubahan iklim, kekerasan, serta kesehatan yang buruk (IFRC, World Disaster Report 2010: Focus on Urban Risk).
Bencana alam akibat perubahan iklim dan kerentanan sosial yang muncul dari pesatnya pembangunan perkotaan dewasa ini menjadi tema pokok dari peringatan Pengurangan Bencana Dunia (World Disaster Campaign 2010).

Diskusi Publik Hari Pengurangan Risiko Bencana Sedunia 2010

Dam Bili-bili Mengkhawatirkan, Makassar Bisa Seperti Wasior
DISKUSI BENCANA. Dari kiri, Muh Ilham (moderator), M Nawir, Syamsu Rizal, Abdul Thalib Mustafa dan Kahar Mustari dalam Diskusi Publik memperingati Hari Pengurangan Risiko Bencana Sedunia 2010 yang digelar di studio mini redaksi harian FAJAR, Rabu 13 Oktober. (FOTO YUSRAN/FAJAR)
TAK banyak orang peduli terhadap kelestarian lingkungan hingga bencana itu datang. Bercermin dari bencana ekologis di Wasior, Papua Barat, kita di Sulawesi Selatan pun diharap dapat memetik hikmahnya.
SEBUAH kalimat yang dilontarkan pakar lingkungan hidup dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Dr Kahar Mustari sempat membuat tersentak. Ia mengungkapkan sebuah fakta bahwa sebenarnya Waduk Jeneberang atau lebih dikenal dengan Dam Bilibili, juga menyimpan bencana yang tinggal menunggu waktu seperti bencana di Wasior. Seperti apa ancaman itu?