20 Jun 2011

Prinsip-prinsip Kunci Pendidikan Paulo Freire


Tulisan ini adalah salah satu Materi Dasar Pelatihan CO (Community Organizing) – Uplink Indonesia region Sulawesi yang dilaksanakan oleh UPC Jakarta pada tahun 2005 di Makassar. Acuan pokok materi ini diambil dari buku karangan Anne Hope dan Sally Timmel: Training for Transformation, Book 1, London - Intermediate Technology Publications, 1999, dan; buku Pendidikan Popular karangan Mansour Fakih dkk.
Postingan ini dimaksudkan sebagai referensi bagi aktivis mengenai pokok-pokok pikiran Paulo Freire tentang pendidikan pembebasan yang sangat digandrungi oleh para aktivis pengorganisasian komunitas (CO) dan gerakan sosial dekade 70-80an. Paulo Freire Reglus Neves, begitu nama lengkapnya; lahir di Recife, ibukota provinsi timur laut Brasil, salah satu daerah yang paling miskin di Amerika Latin. Meskipun dibesarkan dalam keluarga kelas menengah, Freire tertarik pada pendidikan orang miskin di wilayahnya. Berkualifikasi sebagai pengacara, Freire kemudian mengembangkan 'sistim' pengajaran untuk semua tingkat pendidikan.
Dasar-dasar sistim pendidikan Freire berfokus pada lingkungan sosial siswa. Freire berasumsi bahwa pembelajar harus memahami realitas mereka sendiri sebagai bagian dari kegiatan belajarnya. Seorang siswa tidak cukup dengan membaca kalimat: 'Hawa melihat anggur '. Siswa harus belajar memahami Hawa dalam konteks sosialnya, mencari tahu siapa yang bekerja menghasilkan anggur dan yang mendapat keuntungan dari pekerjaan tersebut. Sistim pendidikan ini yang membawa Freire dalam pengasingan penjara selama tujuh puluh lima hari pada tahun 1964 atas tuduhan mengembangkan teori 'revolutionery and an ignorant'. Dia kemudian menghabiskan empat tahun hidupnya di Chili dan satu tahun di Amerika Serikat. Pada tahun 1970, dia pindah ke Jenewa, dan bekerja untuk Dewan Gereja-gereja Dunia. Pada tahun 1980, dia ke Brasil untuk 'kembali belajar' tentang negaranya.
Koleksi buku yang diterbitkan Paulo Freire telah diterjemahkan ke dalam delapan belas bahasa. Lebih dari dua puluh universitas di dunia menganugerahkannya gelar Doktor Honoris Causa. Publikasinya yang paling populer, Pedagogi (Pendidikan) Kaum Tertindas, didedikasikan kepada masyarakat yang hidup dalam penderitaan dan bagi mereka yang bekerja, serta berjuang untuk mengentaskan pemiskinan. Pada tahun 1989, dia menjabat Sekretaris Pendidikan di Sao Paulo, negara yang paling padat penduduknya di Brasil. Selama menjabat, dia berusaha mewujudkan ide-idenya dengan meninjau ulang kurikulum, dan meningkatkan gaji para pendidik Brasil.
Paulo Freire adalah seorang pria yang memiliki rasa humor. Pada saat yang sama, dia juga seorang pria yang sangat muak dengan semua jenis ketidakadilan (dehumanisasi). Dia adalah ayah dari lima anak dari istri pertamanya, Elza. Setelah kematian Elza, dia kemudian menikahi mantan mahasiswanya, Ana Maria {dikutip dari paper Heinz Peter Gerhardt: Paulo Freire (1927-97) dalam Prospects: the quarterly review of comparative education (Paris, UNESCO: International Bureau of Education), vol. XXIII, no. 3/4, 1993, p.439–58, ©UNESCO: International Bureau of Education, 2000.
Gagasan-gagasan terpenting yang mendasari karya Paulo Freire cukup mudah dipahami oleh mereka yang terlibat dalam perjuangan untuk mengubah situasi yang tidak adil. Prinsip-prinsip tersebut mempunyai pengaruh besar pada apa yang di Amerika Latin, Filipina dan Afrika Selatan disebut ‘pendidikan rakyat’ (popular education). ‘Pendidikan rakyat’ adalah upaya komunitas untuk menguasai pengetahuan yang sudah ada dan membangun pengetahuan baru untuk membaharui masyarakat sehingga semua orang memiliki kesempatan untuk hidup secara utuh dan penuh.
Para pendamping pengorganisasian masyarakat sangat perlu memahami prinsip-prinsip kunci tersebut, jika mereka ingin berperan secara efektif dalam proses transformasi sosial.
 
Masalah yang dialami rakyat adalah situasi penindasan
Freire berangkat dari kehidupan nyata yang memperlihatkan bahwa sebagian besar manusia menderita, sementara sebagian lainnya menikmati jerih payah orang lain dengan cara-cara yang tidak adil. Keadaan itu disebutnya sebagai situasi penindasan. Menurut Freire penindasan adalah keadaan yang menafikan harkat kemanusiaan. Dehumanisasi ini terjadi baik atas rakyat yang merupakan mayoritas kaum tertindas, maupun atas diri minoritas kaum penindas sendiri. Keduanya menyalahi martabat manusia. Mayoritas kaum tertindas menjadi tidak manusiawi karena hak-hak dasar mereka diingkari dan dibenamkan dalam ‘kebudayaan bisu’ (culture of silence). Minoritas penindas juga tidak manusiawi karena mendustai hati nurani sendiri dengan memaksakan penindasan bagi sesamanya.
Meski dehumanisasi itu telah terjadi sepanjang sejarah peradaban, humanisasi merupakan panggilan dasar manusia atau fitrah manusia. Panggilan manusia sejati adalah menjadi pelaku atau subyek sejarahnya, bukan penderita dan obyek. Panggilan manusia sejati adalah menjadi pelaku yang sadar, yang bertindak mengatasi dunia serta realitas yang menindas. Kaum tertindas harus memerdekakan diri mereka dari penindasan yang tidak manusiawi sekaligus membebaskan kaum penindas mereka dari penjara hati nurani yang tidak jujur.
Tujuan pendidikan adalah transformasi radikal
Kita terpanggil untuk melakukan tranformasi: kehidupan pribadi kita, komunitas kita. lingkungan kita, dan seluruh masyarakat. Bagi kaum miskin di dunia, ‘situasi seperti yang ada sekarang’ tidaklah memuaskan, dan bukan niscaya harus seperti itu. Pendidikan transformatif didasarkan pada harapan bahwa sungguh mungkin mengubah kehidupan menjadi lebih baik. Landasannya adalah visi tentang masyarakat baru yang lebih adil.
‘Radikal’ artinya sampai ke akar-akarnya. Akar penyebab banyaknya kesengsaraan yang tidak perlu di dunia moderen ini tertanam dalam nilai-nilai yang mempengaruhi ‘peradaban’ industri moderen Barat. ‘Peradaban’ itu kini berpengaruh pada sebagian terbesar dunia. Nilai-nilai dominan ini mencakup keserakahan dan kendali atas harta milik serta kuasa atas orang dan barang.
Untuk melakukan transformasi masyarakat, kita perlu menggali nilai-nilai kerjasama, keadilan dan ‘kepedulian pada kepentingan bersama’. Semua agama menantang kita untuk menjunjung tinggi nilai-nilai tersebut, karena semua itu adalah segi-segi terpenting dari cinta kasih. Itulah sebabnya pendidikan transformatif pada dasarnya adalah proses spiritual.
Proses transformasi meliputi aksi maupun refleksi. 
Pendidikan dan pengembangan masyarakat bukanlah proses yang terpisah, keduanya adalah dua sisi dari satu keping mata uang. ‘Pendidikan rakyat’ bukanlah kegiatan akademis yang individualistik seperti kebanyakan pendidikan tradisional Barat dimana orang berusaha mencapai kualifikasi setinggi-tingginya buat dirinya sendiri. ‘Pendidikan rakyat’ mengakui energi dan potensi yang ada dalam diri tiap pribadi dan komunitas dan berusaha memberdayakannya agar mampu memberikan sumbangan sebesar-besarnya bagi proses pengembangan masyarakat baru yang memungkinkan semua orang memenuhi kebutuhan kemanusiaannya.
Penyadaran merupakan inti proses pendidikan
Penyadaran atau konsientisasi merupakan inti proses pendidikan rakyat, karena transformasi radikal sebagaimana disebut di atas tidak mungkin terjadi tanpa upaya penumbuhan kesadaran yang menjauhkan seseorang dari ‘rasa takut akan kemerdekaan’ (fear for freedom). Kesadaran seseorang menurut Freire berproses dari satu tahap ke tahap lainnya. Ada tiga tahap kesadaran rakyat: (1) Kesadaran magis (magical consiousness), yaitu tahap kesadaran ketika rakyat masih beranggapan bahwa penyebab kesengsaraan mereka adalah faktor di luar manusia (entah alam atau supra alam); (2) Kesadaran naif (naival consciousness), yaitu tahap kesadaran rakyat saat mereka mengidentifikasi penyebab kesengsaraan mereka adalah kelemahan manusia. Mereka sengsara karena mereka kurang rajin, tidak memiliki sikap wiraswasta, tidak mempunyai budaya ‘membangun’, kurang trampil, kurang pengetahuan; (3) Kesadaran kritis (critical consiousness) adalah tahap ketika rakyat melihat bahwa biang keladi kesengsaraan mereka adalah sistem dan struktur yang berlaku, dan menindas.
Tema yang relevan dan menggerakkan (relevant generative themes)
Semua pekerja sosial berfikir kegiatan pendidikan yang diselenggarakannya relevan: tapi siapa yang menentukan apa yang relevan bagi suatu komunitas? Banyak yang menegaskan bahwa komunitas sendiri harus memilih isu yang paling penting dalam dalam pendidikan dan pengembangan masyarakat. Paulo Freire menerima konsep itu dan mengembangkannya lebih lanjut dengan mengemukakan kaitan antara emosi dan motivasi untuk bertindak.
Banyak pendidikan mencoba menafikan perasaan manusia dan memusatkan perhatian pada akal dan tindakan. Tapi Freire berpendapat bahwa emosi memegang peranan menentukan dalam transformasi. Perasaan adalah kenyataan. Hanya dengan bertolak dari isu yang membangkitkan perasaan kuat – harapan, ketakutan, kekhawatiran, kemarahan, kegembiraan, kesedihan - pada komunitas dan mengangkatnya ke permukaan, kita dapat memecahkan rasa acuh tak acuh (apatis) dan ketakberdayaan yang telah melumpuhkan kaum miskin di mana-mana.
Apatis bukanlah keadaan alami pada manusia. Yang alami bagi semua manusia adalah berjuang memenuhi kebutuhan mereka. Hanya ketika usaha-usaha mereka terus-menerus mengalami hambatan, maka mereka menjadi terpuruk dalam sikap apati.s Peran animator adalah membantu rakyat menemukan harapan baru saat mereka menggali kembali energi alami mereka dan memecah sikap apatis mereka bersama-sama.
Paulo Freire menamakan isu yang mampu membangkitkan energi alami dan harapan mereka itu ‘tema-tema generatif’. Agar program bisa sungguh-sungguh didasarkan atas tema-tema itu, animator perlu mengawali kegiatannya dengan survei mendengarkan. Proses mendengarkan dan dialog terus-menerus harus tetap ada di sepanjang proses selanjutnya.
Beberapa isu dibicarakan orang secara bebas dan muncul ke permukaan dalam perbincangan di komunitas seperti misalnya isu penutupan klinik atau langkanya kesempatan kerja. Tema-tema lain berkecamuk di bawah permukaan, tetapi tidak dibicarakan karena ketakutan atau ditabukan (seperti kekerasan seksual, hubungan seksual antara kerabat dekat - incest, kecanduan minuman keras, wabah AIDS).
Dialog atau musyawarah
Dialog atau musyawarah sangat menentukan dalam setiap aspek pembelajaran partisipatif dan dalam seluruh proses transformasi. Tantangan untuk membangun masyarakat yang adil berdasarkan kesetaraan sangat kompleks. Kita telah diajar untuk percaya bahwa ada orang-orang ahli yang mempunyai pengetahuan yang kita perlukan. Selama bertahun-tahun pendidikan tradisional dipandang sebagai proses penyampaian informasi dari ‘seorang yang tahu’ (guru) kepada orang-orang lain ‘yang tidak tahu’ (murid). Paulo Freire menyebut proses seperti ini sebagai pendidikan gaya ‘bank’, karena si guru setiap kali menaruh simpanan pada pikiran murid yang kosong. Proses itu juga dilukiskan sebagai proses menuang air dari bejana yang penuh pada gelas yang kosong atau seperti mengisi bensin pada tangki mobil yang kosong.
Tapi kini kita tahu bahwa pada banyak isu pandangan para ‘ahli’ itu terbukti keliru. Ini khususnya terjadi dalam persoalan pengembangan masyarakat; nasihat para ‘ahli’ dalam bidang ini berkali-kali telah membawa ke keadaan kemiskinan yang lebih parah. Kini ada kesadaran baru bahwa tak ada ‘ahli’ yang bisa memberikan semua jawaban pada persoalan besar yang dihadapi dunia moderen. Masing-masing mungkin mempunyai informasi yang berharga, tetapi kita membutuhkan dialog untuk mencari masukan dari semua orang yang peduli untuk mencari pemecahan masalahnya. Partisipasi rakyat setempat sangat menentukan efektivitas upaya pengembangan masyarakat.
Tentu saja ada perlunya informasi dari mereka yang mempunyai pengetahuan dan pengalaman khusus. Namun, suatu kelompok akan jauh lebih mudah menyerap dan mengambil manfaat dari informasi itu, apabila program dimulai dengan dialog, yang akan membawa ke permukaan semua pertanyaan yang tersembunyi di pikirannya. Masukan yang relevan kemudian akan menantangnya untuk berfikir lebih mendalam dan berdialog lebih lanjut.
Dialog menuntut kesabaran, kerendahan hati dan kepercayaan yang tulus bahwa seseorang bisa belajar dari orang lain. Dialog menuntut keterbukaan pada informasi baru, kesediaan untuk ditantang dan harapan yang mendalam bahwa perubahan memang bisa terjadi. Peran animator adalah menciptakan iklim  yang mendukung terjadinya dialog sejati. Karena itu ia membutuhkan pemahaman tentang dinamika kelompok dan keterampilan kepemimpinan kelompok.
Ajuan masalah dan pencarian pemecahan masalah
Setelah kita menemukan isu generatif dari komunitas, kita perlu menemukan suatu perangkat yang mampu menyajikan kembali pengalaman tentang masalah inti itu kepada kelompok komunitas. Ini akan bisa membuat mereka menyadari bahwa mereka punya sesuatu yang bisa diajukan berkenaan dengan masalah tersebut. Poster, drama, foto, slide, lagu dan permainan simulasi bisa digunakan untuk membantu memusatkan perhatian kelompok pada satu masalah yang sama. Bahan ajuan masalah ini disebut kode (code). Mereka seringkali mengaitkan perasaan dengan fakta dan menekankan kontras (kontradiksi). Energi yang bisa dibangkitkan oleh kode seperti itu dalam diskusi kelompok jauh lebih besar daripada ceramah dan pertanyaan abstrak.
Dengan kode yang baik, animator tidak usah menerangkan masalah. Semua pattisipan akan langsung melihatnya. Animator kemudian mengajukan serangkaian pertanyaan agar kelompok bisa menggambarkan dan menganalisis masalahnya. Mereka harus bisa mengaitkan kode itu dengan situasi nyata dalam kehidupan mereka, karena itu akan membangkitkan energi untuk bertindak. Animator membantu kelompok untuk mendalami akar penyebab masalah dan kemudian menantang mereka untuk menemukan pemecahan permasalahan, kadangkala menyajikan alternatif pemecahan yang diambil orang lain. Refleksi atas masalah itu meletakkan dasar kokoh untuk perencanaan aksi yang efektif. Peran animator sepanjang proses bukan memberi jawaban, tetapi mengembangkan proses sedemikian rupa sehingga kelompok bisa mencari sendiri pemecahan masalahnya secara sistematis.
Pendekatan Bank
Pendekatan Ajuan Masalah
  • Guru dipandang sebagai orang yang mempunyai semua informasi yang penting
  • Murid dipandang sebagai bejana kosong yang merindukan diisi dengan pengetahuan
  • Guru berbicara
  • Murid menyerap secara pasif
  • Pengetahuan dipandang sebagai paket kemasan informasi terpercaya yang harus diteruskan dari satu orang ke orang lain.
  • Animator menawarkan kerangka berfikir bagi partisipan yang aktif dan kreatif sehingga mereka bisa mebahas bersama suatu masalah dan menemukan pemecahannya.
  • Animator mengajukan pertanyaan: mengapa, bagaimana, siapa?
  • Partisipan aktif, menggambarkan masalah, menganalisis, mengajukan saran, menentukan, merencanakan.
  • Rakyat secara aktif terlibat dalam konstruksi sosial pengetahuannya
 
Refleksi dan Aksi
Lingkaran refleksi dan aksi adalah penting dalam keseluruhan proses transformasi komunitas. Proses tersebut mencakup survei tema generatif, penggunaan kode ajuan masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang disarankan akan mengarahkan diskusi. Semua itu dirancang untuk menggerakkan lingkaran refleksi dan aksi. Sekali satu komunitas telah merasakan kegembiraan bersama karena mencapai sebagian tujuan mereka, mereka akan semakin berambisi dan hidup mereka akan semakin dipenuhi energi dan arah baru. Animator akan bisa menyaksikan bagaimana rakyat dan komunitas tumbuh mekar di depan matanya. Inilah yang membuat metode ini mengasyikkan.
Perubahan radikal mulai saat suatu komunitas mengalami ketidakpuasan atas salah satu aspek kehidupan mereka dan bersedia meluangkan waktu untuk memeriksa ketidakpuasan mereka itu. Animator perlu menyiapkan suasana agar musyawarah tentang isu tersebut bisa terjadi. Pertemuan reguler organisasi seringkali sudah penuh acara, sehingga mungkin perlu diselenggarakan lokakarya khusus agar ada waktu memadai untuk membahas masalahnya secara lebih mendalam. Namun, pertemuan-pertemuan dalam rangka program pendidikan rakyat bisa sepenuhnya dirancang atas dasar lingkaran aksi-refleksi ini.
Animator menyiapkan suasana agar orang bisa berhenti dari pekerjaan sehari-hari dan melakukan refleksi secara kritis atas apa yang mereka kerjakan. Kode dapat sangat membantu untuk mempercepat proses mengawali refleksi itu. Kelompok mengidentifikasi informasi baru atau ketrampilan yang mereka butuhkan, mencari informasi tersebut atau berusaha mendapatkan pelatihan, lalu merancang tindakan.
Seringkali rancangan tindakan pertama memang memecahkan aspek tertentu dari masalah mereka, tapi tidak menyentuh secara mendalam akar penyebab masalahnya. Dengan mengadakan pertemuan reguler dalam rangka lingkaran refleksi dan aksi, kelompok dapat secara terus menerus merayakan keberhasilan dan menganalisis secara kritis sebab kekeliruan dan kegagalan mereka, sehingga mereka menjadi makin mampu melakukan transformasi kehidupan sehari-hari mereka secara efektif. Proses aksi dan refleksi ini disebut ‘praxis’ .
Masukan dalam lingkaran refleksi-aksi itu penting. Kelompok tidak usah menemukan segala sesuatunya sendiri dari awal. Mereka bisa belajar dari pengalaman orang dari luar kelompok mereka. Masukan bisa beragam bentuknya, seperti:
  • ceramah pendek unutk memberi informasi yang menurut mereka relevan;
  • model analisis yang memberi kerangka dan menempatkan masalah mereka dalam perspektif lebih luas;
  • kutipan-kutipan dari Kitab Suci atau buku rohani yang dapat menantang mereka untuk memberi tanggapan yang mendalam;
  • pemutaran slides atau film yang menunjukkan bagaimana kelompok lain dalam situasi yang serupa melakukan percobaan untuk memecahkan masalah mereka;
  • panduan untuk perencanaan (langkah-langkahnya)
  • masukan harus dijadikan pokok pikiran untuk mengawali musyawarah, bukan ‘kebenaran’ akhir atau jawaban tuntas.
Tidak ada pendidikan yang netral
Tidak ada guru yang pernah obyektif sepenuhnya. Kita semua dikondisikan oleh pengalaman hidup kita, oleh karena itu kita perlu merikasa secara kritis bagaimana pengalaman itu telah mempengaruhi nilai dan keputusan kita. Kita perlu memeriksa seberapa jauh kita telah menggunakan peran dan kekuasaan kita dalam kelompok untuk mencoba membentuk orang lain menurut citra kita. Kita harus pula memeriksa seberapa jauh kita telah mendorong orang lain agar mengembangkan diri menurut alur mereka. Kita harus memeriksa seberapa jauh pendidikan yang kita lakukan ‘menjinakkan’, agar peserta dapat cocok dengan peran yang dituntut oleh budaya yang dominan dan sejauhmana pendidikan kita telah membebaskan mereka menjadi orang yang kritis, kreatif, merdeka, aktif dan bertanggungjawab baik sebagai warga masyarakat, maupun sebagai anggota kelompok belajar.
Namun, tentu saja ada fakta yang harus kita ketahui agar kita bisa memahami dunia. Tetapi fakta tersebut kurang ada artinya jika dilihat terlepas tanpa kaitan dengan keseluruhan. Bahwa jumlah penderita kurang gizi mencapai 60% atau 64% itu adalah fakta, tapi informasi ini bila disandingkan dengan fakta membesarnya anggaran untuk pembelian senjata dan menurunnya anggaran untuk penyediaan makanan dalam anggaran belanja negara akan mengubah secara radikal pemahaman kita tentang penyebab kekurangan gizi.

1 komentar:

waldy mengatakan...

Open Education / Open Knowladge ^_^

Poskan Komentar