12 Sep 2016

Revolusi (Mental) Berkebudayaan

Tulisan ini hendak mewacanakan kebudayaan dan visi revolusi mental. Penulis memahami atau mengembangkan gagasan yang dimaksud Jokowi tentang revolusi mental itu adalah pengembangan strategi atau politik kebudayaan, yaitu melakukan perubahan secara kultur berpolitik dan berpemerintahan. Sehingga penulis menegaskan bahwa tanpa perspektif kebudayaan dan gerakan sosial, gelora revolusi mental akan berhenti sebatas jargon politik, dan tidak akan terinternalisasi menjadi perilaku dan mentalitas yang diharapkan Jokowi.

24 Agt 2016

Seni dalam Kampung Kota

Setiap tahun di kampungku, pemuda atau pun remaja merayakan Hari Kemerdekaan 17 Agustus dengan berbagai lomba, dan diakhiri dengan apa yang mereka sebut Malam Pesta Rakyat. Tanpa diskusi, apalagi debat soal kedaerahan versus nasionalisme yang kadang melelahkan. Yang pokok bagi pemuda-remaja lorongku ini adalah kemeriahan berolahraga, bermain, dan pertunjukan seni yang tidak kalah serunya. 
Adalah tradisi, begitu lebih tepat aku menyebut semua itu. Kegiatan Agustusan selalu berulang bentuk dan ritmanya. Ada satu bentuk skpresi mereka yang khas, ialah seni teater, yang kental dengan ekspresi simbolik kedaerahan dan kepahlawanan. Latar panggung, kostum pemain, alur cerita, dan dialog yang vulgar, juga kocak dilakonkan tanpa skenario dan sutradara. Memang ada kemiripan dengan teater tradisi Kondobuleng, yang cukup popular dari tetangga kampung. Hanya saja teater lorongku ini dimainkan oleh remaja usia 17 - 27 tahun. Dan, setiap pentas, selalu saja ada pemain baru yang lebih muda. Penontonnya lebih seru lagi. Selain tokoh dan tetua kampung sepeti RT, RW, lurah sampae camat, kebanyakan dari mereka adalah anak-anak, remaja dan ibu-ibu rumah tangga. Tentu lah suasana sangat meriah karena yang pentas adalah kerabat, teman sebaya, anak-kemenakan mereka. Panggung yang pas-pasan menjadi luas terasa. Begitu lah cara orang kampung mewariskan tradisi.

21 Mar 2016

Menganut Aliran Abstrak, Peniup Peluit Ini Mengaku Hidup Karena Panggilan Jiwa

Dewicha Kinanti Tandiari
14/364952/SA/17389

Dalam sehari, saya menjumpai kurang lebih lima tukang parkir di beberapa tempat tertentu. Mulai dari supermarket, pasar, hingga warung-warung kecil di pinggir jalan. Dari beberapa jenis tukang parkir yang saya jumpai, ada satu yang menarik perhatian. Tubuhnya terbilang pendek, pakaiannya rapi, peluit dikalungkan di leherny, serta memakai sepatu gunung berwarna jingga. Jemarinya bergerak memutar membersihkan motor dan helm pengunjung warung makan menggunakan kain lap. Sungguh pemandangan yang tidak biasa dari seorang tukang parkir. Tidak lupa Ia memberi senyum dan mengucap terima kasih dan hati-hati dengan bahasa jawa kepada pengunjung yang telah Ia bersihkan motornya. Ya, begitulah kiranya seorang tukang parkir “teladan” dalam versi saya, Pak Budi Santoso namanya. Beliau sehari-hari menjadi tukang parkir di beberapa warung di daerah Kuningan, Karangmalang, Yogyakarta. Sudah tiga kali saya makan di salah satu warung tersebut, dan saya selalu senang melihat Bapak berumur 54 tahun itu bekerja dengan sangat tekun, meski hanya mengelap motor yang parkir disana. Pak Budi, begitu sapaan akrabnya, sudah bekerja menjadi tukang parkir selama empat tahun. Saya menyempatkan diri untuk ngobrol dengan Pak Budi. Kisah hidupnya ternyata amat menarik, penuh tanggung jawab dan kerja keras. Ia selalu mengaku bahwa dirinya hanya ‘orang kecil’, tapi saya tahu, semangat hidupnya jauh lebih besar dari itu.

13 Mar 2016

INDONESIA BAGIAN DESA SAYA (2)

Pokok-pokok Pikiran Prof. Mattulada tentang Desa
Hingga akhir abad ke-19, masyarakat Sulawesi Selatan tidak mengenal konsep kota atau ibu kota, melainkan konsep ibu negeri, watampanua, dan lain-lain. Profesor Mattulada (alm), antropolog, mantan Guru Besar Unhas Makassar dan Rektor Untad Palu dalam sebuah tulisannya, Kerangka Dasar Teori Perkembangan “Manusia” dalam Kehidupan Masyarakat Desa (1992) merinci konsep dan konteks desa di Sulawesi Selatan. Berikut adalah pokok-pokok pikiran beliau:

7 Mar 2016

Pernyataan Sikap Perihal Eks PNPM

Kepada Yang Terhormat,Bapak Presiden RI
c.q. Kementerian Desa & PDT
Perihal: Pernyataan Sikap atas Pro-Kontra Eks-PNPM
Assalamu ‘Alaikum Warahmatullahi Wabarakatu.
Salam Sejahtera bagi Bapak Presiden beserta para menteri, semoga senantiasa dalam kemuliaan, dan senatiasa dilimpahkan rahmat dan hidayah dariNYA dalam menjalankan roda kepemimpinan Republik Indonesia yang tercinta. 
Kami sampaikan bahwa, disahkannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, tentunya menjadi sebuah tanda yang teramat jelas bahwa pemerintahan bapak sungguh berpihak kepada masyarakat pedesaan dan kaum marjinal perkotaan. Otonomi daerah merupakan peluang bagi pemerintah daerah untuk mengembangkan potensi sumber daya alamnya. Pada saat yang sama keleluasaan bagi masyarakat desa untuk mengatur pemerintahannya tentu lah menjadi hal yang penting guna mengembangkan potensi desa secara tepat guna dan berkelanjutan.

13 Feb 2016

INDONESIA BAGIAN DESA SAYA


Judul postingan di atas dipetik dari sebuah buku karya Emha Ainun Nadjib, yang berisi 29 tulisan esais tentang dinamika budaya pedesaan dalam perubahan sosial di era 1990-an. Buku ini merefleksikan situasi kritis masyarakat pedesaan pasca pemilu 1992. Cak Nun memandang politisasi dan modernisasi desa oleh orang-orang kota adalah sumber permasalahan, yang menimbulkan gejolak sosial yang mendalam. Menguatnya kepentingan kepentingan kelompok dominan (status quo), dalam hal ini partai Golkar, disertai dengan penetrasi gaya hidup kaum metropolis telah mengubah tidak hanya mengubah pola relasi antarwarga, lebih dari itu merusak sendi-sendi moral-spiritual masyarakat desa.