1 Mei 2017

BUMDes - Booming Usaha Milik Desa

Catatan Seminggu di Halmahera Barat
Suharto dan Susanto. Kedua lelaki paruh baya ini adalah transmigran asal Jember Jawa Timur. Sejak tahun 1992 mereka menetap di desa Golago Kusuma kecamatan Sahu Timur kabupaten Halmahera Barat Maluku Utara. Pak Harto, begitu panggilan sehari-harinya adalah Kepala Desa. Sedangkan pak Santo adalah Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Sebagai Kades, pak Harto secara ex officio menjabat Komisaris BUMDes  Dan, pak Santo sebagai direktur, tentu saja adalah pelaksana mandat keputusan Musyawarah Desa yang ditetapkan oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD). 

7 Mar 2017

Dicari Arsitek Profesional

Oleh M. Nawir
Harimau-harimau Mengintai Orang-orang Baik Sepanjang Jalan Tanpa Ujung Menuju Roma
Penulis mengapresiasi sebuah buku berjudul Belajar Bersama Arkom Jogja: Gerakan Sosial dan Hal-hal yang Belum Selesai (Marsen Sinaga, 2017). Apresiasi penulis terutama pada klaim sekumpulan arsitek-perencana yang menyebut diri Arsitek Komunitas. Klaim Arkom adalah: (1) membangun ruang bersama komunitas secara partisipatif; (2) mempengaruhi kebijakan penataan ruang pemerintah daerah/kota secara kolaboratif. Kedua hal ini menegaskan eksistensi arsitek komunitas, yang membedakannya dengan profesi arsitek konvensional.

1 Feb 2017

Catatan Seminggu di Solo (Bagian 2)

Relaksasi: “Ikan Tongkol” atawa “Ikan Phallus”
Sejak dahulu kota Solo identik dengan kota sungai Bengawan Solo dan Kali Pepe. Tidak ada laut yang membatasinya. Itulah sebabnya makanan jajanan khas Solo pada umumnya diolah sumber daya pertanian dan peternakan seperti daging ayam, kambing, sapi, dan jenis ikan sungai seperti gurame, mujair, di samping sayur-sayuran dengan bumbu yang pedis-manis. Jadi, jangan terlalu berangan-angan bisa menikmati makanan jajanan (warungan) ikan bakar, ikan masak seperti di kota Makassar. Tidak ikan tongkol bakar di Solo. Menu ikan bakar terutama disajikan di restoran china.  Kuliner yang khas seperti Soto Timlo, Gudeg Ceker, Nasi Liwet, Sate dan Tengkleng, Bakso dan Mie Ayam. Juga tersedia makanan khas lainnya seperti sea food ala Restoran Cantoni. Keberagaman kuliner ini merupakan ciri keberagaman budaya-agama masyarakat kota Solo.

31 Jan 2017

Catatan Seminggu di Solo (Bagian 1)

Siasat Arsitek Komunitas
Menghadiri undangan Yuli Kusworo, saya mengikuti rangkaian kegiatan Nyemlung Kampung Arkom Jogja dari 18 sampai 27 Januari 2017 di kota Solo. Serasa melepaskan saya dari rumah-kampung, dan masuk kota lagi. Lebih seminggu bergabung dengan 40-an anak muda jurusan arsitek dari berbagai kota, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, Kendari, Pontianak, dan tentu saja jogja-Solo. Beberapa di antaranta mahasiswa jurusan sosiologi UNS Surakarta.

29 Nov 2016

REFLEKSI SASTRA KEBANGSAAN

M. Nawir
PASTRINDO
Pserserikatan Alumni Sastra Indonesia
Bahasa menunjukkan bangsa, Sastra merefleksikan identitas bangsa melalui bahasa. Bahasa dan sastra adalah senyawa kebangsaan indonesia. Secara historis, hal itu telah diamanahkan oleh kaum muda pelopor republik pada tahun 1928 melalui Sumpah Pemuda. Satu kesatuan bahasa, tanah, dan bangsa itu adalah proklamasi kebangsaan, yang tidak terpisah dari proklamasi kemerdekaan 1945.
Wawasan kebangsaan mencakup kesadaran tentang pluralitas suku, ras, antargolongan, khasanah budaya dan adat istiadat; kesadaran tentang ideologi antar bangsa, sistim politik, dan terutama simbol-simbol pemersatu suatu bangsa seperti bahasa, lagu dan bendera kebangsaan.

19 Nov 2016

Identitas Budaya Bangsa dalam Bingkai NKRI

Andi Abd. Khalid Syukur
Diskusi Kritis Meneguhkan Identitas Budaya Bangsa dalam Bingkai NKRI, yang digelar oleh jaringan relawan Almisbat, JNIB, dan Seknas Jokowi telah berlangsung dua sesi dalam sepekan ini (14 dan 19 November 2016). Tema diskusi ini, menjadi penting dituliskan dan terus didiskusikan merujuk pada peristiwa politik yang sedang mendera bangsa Indonesia. Selama Orde Baru, bangsa-bangsa atau suku-suku bangsa telah dimanipulasi melalui budaya populer pemerintah dan kekerasan militer guna ideologi “pembangunanisme”. Efek-efek dari Orde Baru selama ini tidak berusaha sepenuhnya diobati, sehingga gejalanya masih terus berakar di masa reformasi ini. Gejala-gejala ini, dapat menghadirkan disintegrasi bangsa, sehingga memposisikan kembali identitasi budaya sebagai pengikat Negara kesatuan, yang berbasis pada keberagaman dan pengakuan bangsa-bangsa didahulukan dalam pemahaman bernegara.