29 Nov 2016

REFLEKSI SASTRA KEBANGSAAN

fib unhas, 28/11/2016
M. Nawir
PASTRINDO
Pserserikatan Alumni Sastra Indonesia

Bahasa menunjukkan bangsa, Sastra merefleksikan identitas bangsa melalui bahasa. Bahasa dan sastra adalah senyawa kebangsaan indonesia. Secara historis, hal itu telah diamanahkan oleh kaum muda pelopor republik pada tahun 1928 melalui Sumpah Pemuda. Satu kesatuan bahasa, tanah, dan bangsa itu adalah proklamasi kebangsaan, yang tidak terpisah dari proklamasi kemerdekaan 1945.
Wawasan kebangsaan mencakup kesadaran tentang pluralitas suku, ras, antargolongan, khasanah budaya dan adat istiadat; kesadaran tentang ideologi antar bangsa, sistim politik, dan terutama simbol-simbol pemersatu suatu bangsa seperti bahasa, lagu dan bendera kebangsaan.
Tulisan ini hendak mengapingkan kembali perbincangan tentang apa yang biasanya disebut 'sastra masa lalu", yakni sastra dalam konteks perjuangan kebangsaan. Dalam konteksnya, wacana kebangsaan kian mengemuka setidaknya dua tahun terakhir, Spirit kemandirian dan kedaulatan bangsa, revolusi mental menjadi wacana ideologi-politik para pemimpin bangsa dewasa ini.
Ayu Utama menggunakan istilah Kanon Sastra Kebangsaan. Bahasa dan karya sastra dari perspektif kebangsaan mengedepankan aspek etis atau fungsi pendidikannya, tidak pada aspek estetis semata. Namun, sesungguhnya tidak ada karya sastra yang terlepas dari unsur estetis. Meminjam ungkapan almarhum WS. Rendra, penyair-dramawan terkemuka - antara "BH dan isi dalamnya" cukup jelas. Tanpa unsur keindahan, bukan lah karya sastra, mungkin hanya lah jargon. Tanpa kemasan bentuknya, bisa jadi hanya lah ungkapan sehari-hari tanpa kreasi. Sehingga, tidak relevena lagi mendikotomi dan mendebatkan aspek etis dan estetis sastra. 
Mewacanakan sastra dengan perspektif  kebangsaan bermaksud menghadirkan salah satu aspek pokok dalam sastra itu sendiri, yakni imajinasi kreatif pada pembacanya. Mengapa hal ini menjadi penting? Seperti yang ditegaskan oleh Karlina Supeli dalam Pidato Kebudayaannya (2013) bahwa "sebuah bangsa yang warganya telah kehilangan daya berpikir abstrak-imajinatif dan kreatif tidak mungkin memiliki imajinasi kolektif tentang negara-bangsa". Sebalikya, imajinasi maupun gagasan tentang kebangsaan suatu masyarakat dalam karya sastra, Dalam pengertian ini, fungsi sastra adalah menumbuhkan kesadaran pembaca pada persoalan identitas kolektif, misalnya berkomitmen pada nilai-nilai kebhinnekaan, toleransi atau pun perikemanusiaan, dan sebaliknya bersikap kritis terhadap ptaktik diskriinasi dan dehumanisasi.
Beberapa pengkaji telah menelusuri wacana sastra kebangsaan pada dekade tahun 80-an hingga Reformasi 1998 tidak sevital karya sastra masa perjuangan kemerdekaan. Suryadi (Kompas, 12 Mei 2013) menyebut novel yang berlatar sejarah dan etnisitas Saman (1998) karya Ayu Utami, dan novel 1998 (2012) karya Ratna Indraswari Ibrahim sebagai karya sastra bervisi kebangsaan. Suryadi mendasari kajiannya pada karya-karya yang meretas isu SARA, yaitu memupuk asimilasi budaya antaretnis maupun pembauran antarpemeluk agama sebagaimana karya-karya Balai Pustaka. Namun, kajian lain (termasuk penulis) menyatakan bahwa WS. Rendra adalah satu di antara sastrawan yang secara gamblang memproklamirkan keprihatinan dan penetangannya pada rezim Orba yang menindas. Pada beberapa puisi pamfletnya, Rendra mengkritik sistim pendidikan yang tidak mencerdaskan siswa, sistim ekonomi yang memiskinkan rakyat, bahkan prktik berkesenian yang "di atas angin". Sejarah pertunjukan teater juga mencatat kritik sosial Nano Riantiarno.melalui drama-drama Opera Kecoa (1982-2005). Demikian halnya Afrizal Malna, pada beberapa karya "video art"-nya seperti Kota dalam Baskom dan Penggusuran Jakarta (2002) memaparkan kekerasan negara terhadap warga miskin sebagai tindakan dehumanisasi. Dan, yang penting juga disebut dalam kajian sastra kebangsaan adalah teater grass-root ala Slamet Gundono dengan pentas Wayang Suketnya pasca reformasi 1998.
Pandangan bahwa seniman maupun sastrawan pasca reformasi 1998 sepi dari tema-tema kebangsaan benar adanya, bila dibandingkan dengan konteks perjuangan revolusi nasional hingga akhir pemerintahan Bung Karno. Aktivisme berkebangsasan justru diambil alih oleh aktivis pro-demokrasi dan organisasi masyarakat sipil lainnya. Cukup banyak organisasi masyarakat sipil yang mengartikulasikan kepentingannya melalui media seni populer. Bahkan aktivis prodemokrasi melahirkan seniman akar rumput seperti Wiji Tukul, dan band musik kerakyatan seperti Jaker dan Sepur di Yograkarta.. 
Dari ulasan di atas tercakup tiga pemahaman tentang sastra yang bervisi kebangssan. 
Pertama, corak sastra bervisi kebangsaan dewasa ini sangat bervariasi baik isi maupun bentuk pengucapannya. Selain puisi, dan drama, genre seni audio-visual (film) dan seni pertunjukan akar rumput merefleksi keprihatinan sastrawan.seniman pada persoalan ekonomi dan politik berbangsa dan bernegara. Pandangan yang hendak mereka kemukakan bahwa dehumanisasi, diskriminasi, korupsi, penggusuran dan praktik pemiskinan lainnya harus ditentang secara terbuka karena hal tersebut menghambat pendewasaan berbangsa dan bernegara. 
Kedua, bahasa sebagai media utama ekspresi seni sastra menjadi vital dalam konteks berkebangsaan. Bahasa Indonesia hingga kini mash diterima sebagai perekat pemersatu dalam komunikasi antaretnis di Nusantara. Mengutip ungkapan Adninegoro (Suryadi dalam Kompas, 13 Mei 2013): ”Kalau anak-anak moeda angkatan sekarang dan angkatan jang akan tiba, berladjar memandang tanah airnja selebar Indonesia Raja, tidaklah akan dapat ganggoean tetek bengek kalau ia hendak merantau ketanah seberang, karena tanah seberang itoe, baik Soematra, baik Borneo, baik Selebes atau Nieuw Guinea, ialah tanah airnja semata-mata, bangsa-bangsa jang diam diatasnja tidak lagi akan disangkanja orang asing, melainkan saudaranja”. :Dalam hal ini bahasa sungguh menjadi penghubung dan pengantar interaksi antarpulau, antaretnis.
Ketiga, lemahnya wacana kebangsaan dalam satu dekade terakhir berdampak pada menguatnya isu SARA dalam proses politik, bahkan teror yang berwajah agama dan etnis. Kawasan timur Indonesia yang sangar beragam etnis dan budayanya sangat rentan dari konflik SARA. Sudah terbukti pascra reformasi, konflik berdarah terjadi di Ambon, Poso, Sampit, Banyuwangi, Kenyataan ini menjadi tantangan bagi pekerja kebudayaan untuk berperan sebagai mediator. Sekali lagi fungsi bahasa dan sastra semakin vital dalam menjernihkan cara pandang masyarakat terhadap kemajemukan etnis dan budaya di Nusantara.

19 Nov 2016

Identitas Budaya Bangsa dalam Bingkai NKRI

Andi Abd. Khalid Syukur
Diskusi Kritis Meneguhkan Identitas Budaya Bangsa dalam Bingkai NKRI, yang digelar oleh jaringan relawan Almisbat, JNIB, dan Seknas Jokowi telah berlangsung dua sesi dalam sepekan ini (14 dan 19 November 2016). Tema diskusi ini, menjadi penting dituliskan dan terus didiskusikan merujuk pada peristiwa politik yang sedang mendera bangsa Indonesia. Selama Orde Baru, bangsa-bangsa atau suku-suku bangsa telah dimanipulasi melalui budaya populer pemerintah dan kekerasan militer guna ideologi “pembangunanisme”. Efek-efek dari Orde Baru selama ini tidak berusaha sepenuhnya diobati, sehingga gejalanya masih terus berakar di masa reformasi ini. Gejala-gejala ini, dapat menghadirkan disintegrasi bangsa, sehingga memposisikan kembali identitasi budaya sebagai pengikat Negara kesatuan, yang berbasis pada keberagaman dan pengakuan bangsa-bangsa didahulukan dalam pemahaman bernegara.

16 Okt 2016

Merayakan Hari Habitat 2016

MEMBANGUN RUMAH PERADABAN
Merupakan agenda tahunan Jejaring Rakyat Miskin Indonesia (JERAMI) merayakan World Habitat Day pada minggu pertama bulan Oktober. Tahun ini, Jerami - KPRM Makassar melakukan pawai dari Monumen Mandala ke Lapangan Karebosi, kemudian dilanjutkan dengan Dialog Kebijakan Pemerintah Kota Makassar. Perayaan tahun ini dihadiri tidak kurang dari 500 massa rakyat KPRM (lih. link beritanya http://makassar.tribunnews.com/2016/10/16/jerami-tuntut-kesejahteraan-lewat-dialog-bareng-pemkot-makassar, http://makassartoday.com/2016/10/16/ribuan-orang-peringati-hari-habitat-dan-penghapusan-kemiskinan-di-karebosi/.Selain poster, spanduk, siaran pers, perayaan hari habit Jerami - KPRM diramaikan dengan pertunjukan seni tradisi 'Ganrang Buloa', yakni seni pencak diiiringi gendang dari warga pesisir Tallo, Buloa.

12 Sep 2016

Revolusi (Mental) Berkebudayaan

Setelah 16 tahun melaksanakan reformasi, kenapa 
masyarakat kita bertambah resah dan bukannya tambah bahagia, 
atau dalam istilah anak muda sekarang, semakin galau?
(Revolusi Mental Joko Widodo, 2015)
Tulisan ini hendak mewacanakan kebudayaan dan visi revolusi mental. Penulis memahami atau mengembangkan gagasan yang dimaksud Jokowi tentang revolusi mental itu adalah pengembangan strategi atau politik kebudayaan, yaitu melakukan perubahan secara kultur berpolitik dan berpemerintahan. Sehingga penulis menegaskan bahwa tanpa perspektif kebudayaan dan gerakan sosial, gelora revolusi mental akan berhenti sebatas jargon politik, dan tidak akan terinternalisasi menjadi perilaku dan mentalitas yang diharapkan Jokowi (M. Nawir).

24 Agt 2016

Seni dalam Kampung Kota

Setiap tahun di kampungku, pemuda atau pun remaja merayakan Hari Kemerdekaan 17 Agustus dengan berbagai lomba, dan diakhiri dengan apa yang mereka sebut Malam Pesta Rakyat. Tanpa diskusi, apalagi debat soal kedaerahan versus nasionalisme yang kadang melelahkan. Yang pokok bagi pemuda-remaja lorongku ini adalah kemeriahan berolahraga, bermain, dan pertunjukan seni yang tidak kalah serunya. 
Adalah tradisi, begitu lebih tepat aku menyebut semua itu. Kegiatan Agustusan selalu berulang bentuk dan ritmanya. Misalnya, satu bentuk skpresi mereka yang khas, ialah seni teater, yang kental dengan ekspresi simbolik kedaerahan dan kepahlawanan. Latar panggung, kostum pemain, alur cerita, dan dialog yang vulgar, juga kocak dilakonkan tanpa skenario dan sutradara. Memang ada kemiripan dengan teater tradisi Kondobuleng, yang cukup popular dari tetangga kampung. Hanya saja teater lorongku ini dimainkan oleh remaja usia 17 - 27 tahun. Dan, setiap pentas, selalu saja ada pemain baru yang lebih muda. Penontonnya lebih seru lagi. Selain tokoh dan tetua kampung sepeti RT, RW, lurah sampae camat, kebanyakan dari mereka adalah anak-anak, remaja dan ibu-ibu rumah tangga. Tentu lah suasana sangat meriah karena yang pentas adalah kerabat, teman sebaya, anak-kemenakan mereka. Panggung yang pas-pasan terasa meluas. Begitu lah cara orang kampung mewariskan tradisi.

7 Mei 2016

TENTANG MORALITAS GURU

M. Nawir
Perserikatan Alumni Sastra Indonesia (PASTRINDO) FIB Unhas
Beda dahulu dengan sekarang. Tidak berarti mengidolakan yang dahulu, yang sekarang bukan idola. Sudah terlanjur melekat nilai-nilai kemuliaan pada sesuatu atau seseorang yang dahulu. Misalnya, guru ‘umar bakri’ versi lagu Iwan Fals, yang ‘jujur berbakti’, yang menghasilkan profesor, insinyur  dan menteri. Tetapi, sang guru masa lalu itu masih ‘bersepeda kumbang’ dengan tas dari ‘kulit buaya’.
Guru hari ini pun menghasilkan profesor, insinyur, menteri, dan banyak lagi. Sama dengan jamannya guru umar bakri, murid-murid suka tawuran dan berurusan dengan polisi. Yang jelas berbeda, guru dahulu bersepeda di jalan yang becek dan berlubang. Guru sekarang bersertifikat, bersepeda motor dan bermobil. Banyak guru terjebak dalam kemacetan. Tetapi tantangan yang dihadapi relatif sama, yaitu menjamin moralitas dirinya dan murid-muridnya dikenang sepanjang masa.
Paulo Freire, seorang intelektual Amerika Latin, patut menjadi teladan para guru di dunia. Ia mengembangkan metode pendidikan dan untuk pengembangan masyarakat. Dasar-dasar teorinya dibangun dari realitas lingkungan sosial siswa, ia Freire berasumsi bahwa seorang siswa tidak cukup dengan membaca kalimat, misalnya “anak pergi ke sekolah, ibu ke pasar, bapak ke kantor”. Siswa diperkenalkan pada pemahaman tentang Anak, Ibu dan Bapak dalam konteks sosialnya. Pada tahun 1964, Freire dipenjara tujuh puluh lima hari atas tuduhan mengembangkan teori radikalisme. Karya-karya Freire kemudian diterjemahkan ke dalam 18 bahasa, dan memperoleh gelar Doktor HC dari dari 20 universitas di dunia.
Tetapi, seorang guru juga manusia, bukan malaikat. Begitu, kata kaum muda sekarang. Dan, karena itu para guru menuntut kesejahteraan dan fasilitas pendidikan yang layak. Pemerintah pun menaikkan standar gaji PNS guru, disertakan program sertifikasi, dana BOS, bantuan siswa miskin, dan semacamnya. Karena, guru juga manusia biasa, tidak otomatis semua program itu mencerdaskan kehidupan siswa dan masyarakat. Sejak dahulu, siswa dan mahasiswa, yang suka tawuran maupun yang kutu buku, masih mengidolakan guru yang gaul, bersahabat, tekun mengajar, sederhana, dan terlibat dalam pemecahan masalah sehari-hari.
Begitulah seharusnya. Mendidik dan mengembangkan masyarakat adalah dua kegiatan yang tidak terpisah. Ibarat kata dan perbuatan, tercermin dalam ungkapan Lao Tse, filsuf Tiongkok kuno, “ajarkan apa yang kau lakukan, lakukan apa yang kau ajarkan”. Keduanya menegaskan moralitas guru adalah pendidik sekaligus pemimpin. Perkataan dan perbuatannya menjadi panutan murid dan masyarakat (dimuat harian Tribun Timur Makassar, 8 Mei 2016).