1 Feb 2017

Catatan Seminggu di Solo (Bagian 2)

Relaksasi: “Ikan Tongkol” atawa “Ikan Phallus”
Sejak dahulu kota Solo identik dengan kota sungai Bengawan Solo dan Kali Pepe. Tidak ada laut yang membatasinya. Itulah sebabnya makanan jajanan khas Solo pada umumnya diolah sumber daya pertanian dan peternakan seperti daging ayam, kambing, sapi, dan jenis ikan sungai seperti gurame, mujair, di samping sayur-sayuran dengan bumbu yang pedis-manis. Jadi, jangan terlalu berangan-angan bisa menikmati makanan jajanan (warungan) ikan bakar, ikan masak seperti di kota Makassar. Tidak ikan tongkol bakar di Solo. Menu ikan bakar terutama disajikan di restoran china.  Kuliner yang khas seperti Soto Timlo, Gudeg Ceker, Nasi Liwet, Sate dan Tengkleng, Bakso dan Mie Ayam. Juga tersedia makanan khas lainnya seperti sea food ala Restoran Cantoni. Keberagaman kuliner ini merupakan ciri keberagaman budaya-agama masyarakat kota Solo.

31 Jan 2017

Catatan Seminggu di Solo (Bagian 1)

Siasat Arsitek Komunitas
Menghadiri undangan Yuli Kusworo, saya mengikuti rangkaian kegiatan Nyemlung Kampung Arkom Jogja dari 18 sampai 27 Januari 2017 di kota Solo. Serasa melepaskan saya dari rumah-kampung, dan masuk kota lagi. Lebih seminggu bergabung dengan 40-an anak muda jurusan arsitek dari berbagai kota, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, Kendari, Pontianak, dan tentu saja jogja-Solo. Beberapa di antaranta mahasiswa jurusan sosiologi UNS Surakarta.
Ada perasaan tua yang membuat saya agak kikuk memulai perbincangan atau berdiskusi dengan anak-anak muda yang rerata usia 25–30-an tahun. Kuatir juga disangka sok akrab. Apalagi kalau ada yang tanya “dulu kuliah dimana, selesai tahun berapa? Haa... iya, siap pak!” Pada kenyataannya tidak lah sevulgar itu. Rasa penasaran lah yang menjembataninya, sehingga percakapan bisa berubah menjadi diskusi-tanya jawab. Saya penasaran mau tahu apa yang mereka pikirkan tentang Nyemplung Kampung. Dan, mungkin saja di antara mereka mau tahu bagaimana memulai bekerja dengan komunitas. Bagi saya perasaan seperti ini adalah pikiran yang serius, yang seharusnya diguyonkan dalam bahasa sehari-hari dari pengalaman pribadi.

29 Nov 2016

REFLEKSI SASTRA KEBANGSAAN

M. Nawir
PASTRINDO
Pserserikatan Alumni Sastra Indonesia

Bahasa menunjukkan bangsa, Sastra merefleksikan identitas bangsa melalui bahasa. Bahasa dan sastra adalah senyawa kebangsaan indonesia. Secara historis, hal itu telah diamanahkan oleh kaum muda pelopor republik pada tahun 1928 melalui Sumpah Pemuda. Satu kesatuan bahasa, tanah, dan bangsa itu adalah proklamasi kebangsaan, yang tidak terpisah dari proklamasi kemerdekaan 1945.
Wawasan kebangsaan mencakup kesadaran tentang pluralitas suku, ras, antargolongan, khasanah budaya dan adat istiadat; kesadaran tentang ideologi antar bangsa, sistim politik, dan terutama simbol-simbol pemersatu suatu bangsa seperti bahasa, lagu dan bendera kebangsaan.

19 Nov 2016

Identitas Budaya Bangsa dalam Bingkai NKRI

Andi Abd. Khalid Syukur
Diskusi Kritis Meneguhkan Identitas Budaya Bangsa dalam Bingkai NKRI, yang digelar oleh jaringan relawan Almisbat, JNIB, dan Seknas Jokowi telah berlangsung dua sesi dalam sepekan ini (14 dan 19 November 2016). Tema diskusi ini, menjadi penting dituliskan dan terus didiskusikan merujuk pada peristiwa politik yang sedang mendera bangsa Indonesia. Selama Orde Baru, bangsa-bangsa atau suku-suku bangsa telah dimanipulasi melalui budaya populer pemerintah dan kekerasan militer guna ideologi “pembangunanisme”. Efek-efek dari Orde Baru selama ini tidak berusaha sepenuhnya diobati, sehingga gejalanya masih terus berakar di masa reformasi ini. Gejala-gejala ini, dapat menghadirkan disintegrasi bangsa, sehingga memposisikan kembali identitasi budaya sebagai pengikat Negara kesatuan, yang berbasis pada keberagaman dan pengakuan bangsa-bangsa didahulukan dalam pemahaman bernegara.

16 Okt 2016

Merayakan Hari Habitat 2016

MEMBANGUN RUMAH PERADABAN
Merupakan agenda tahunan Jejaring Rakyat Miskin Indonesia (JERAMI) merayakan World Habitat Day pada minggu pertama bulan Oktober. Tahun ini, Jerami - KPRM Makassar melakukan pawai dari Monumen Mandala ke Lapangan Karebosi, kemudian dilanjutkan dengan Dialog Kebijakan Pemerintah Kota Makassar. Perayaan tahun ini dihadiri tidak kurang dari 500 massa rakyat KPRM (lih. link beritanya http://makassar.tribunnews.com/2016/10/16/jerami-tuntut-kesejahteraan-lewat-dialog-bareng-pemkot-makassar, http://makassartoday.com/2016/10/16/ribuan-orang-peringati-hari-habitat-dan-penghapusan-kemiskinan-di-karebosi/.Selain poster, spanduk, siaran pers, perayaan hari habit Jerami - KPRM diramaikan dengan pertunjukan seni tradisi 'Ganrang Buloa', yakni seni pencak diiiringi gendang dari warga pesisir Tallo, Buloa.

12 Sep 2016

Revolusi (Mental) Berkebudayaan

Setelah 16 tahun melaksanakan reformasi, kenapa 
masyarakat kita bertambah resah dan bukannya tambah bahagia, 
atau dalam istilah anak muda sekarang, semakin galau?
(Revolusi Mental Joko Widodo, 2015)
Tulisan ini hendak mewacanakan kebudayaan dan visi revolusi mental. Penulis memahami atau mengembangkan gagasan yang dimaksud Jokowi tentang revolusi mental itu adalah pengembangan strategi atau politik kebudayaan, yaitu melakukan perubahan secara kultur berpolitik dan berpemerintahan. Sehingga penulis menegaskan bahwa tanpa perspektif kebudayaan dan gerakan sosial, gelora revolusi mental akan berhenti sebatas jargon politik, dan tidak akan terinternalisasi menjadi perilaku dan mentalitas yang diharapkan Jokowi (M. Nawir).