2 Jun 2010

Pakarena Mak Coppong di Peukanbada Aceh

Ungkapan bijak Mak Coppong yang pantas dikenang: "apalah artinya tarianku, jika kau ukur dengan uang". Begitu perkataan Mak Coppong, ketika penulis bersama seorang seniman muda Makassar Aco Zulsafri, menanyakan biaya sekali pentas. Penulis merasakan perkataan itu sebagai suatu penegasan jati diri bahwa dia sungguh seorang seniman pakarena ritus, bukan penari bayaran. Baginya, mengunjungi masyarakat Aceh yang selamat dari gempa dan tsunami merupakan doa sekaligus dukungan moril. Dan, akhirnya, beliau beserta rombongan berangkat ke Banda Aceh yang seluruhnya atas biaya penyelenggara Peringatan Satu Tsunami Aceh di Peukanbada Aceh Besar, UPC-Uplink Indonesia..
Sependek pengetahuan penulis, untuk pertama kalinya Pakarena, tarian tradisional dari etnis Makassar dipentaskan di Nanggroe Aceh Darussalam, provinsi paling barat Nusantara. Benar kah? Bagaimana ceritanya?
Adalah Mak Copong, seorang penari tradisonal dari desa Kampili kecamatan Pallangga kabupaten Gowa Sulawesi Selatan, mungkin adalah seniman Makassar pertama yang mementaskan tarian Pakarena di hapadan ratusan survivor – warga yang selamat dari bencana – dan sejumlah tamu dari mancanegara, serta perwakilan lembaga donor dalam even Peringatan Satu Tahun Gempa dan Tsunami Aceh, 26 Desember 2005 di kampung Lam Awee kecamatan Peukanbada kabupaten Aceh Besar NAD. Rombongan Mak Copong dihadirkan secara khusus oleh UPC/Uplink Indonesia, sebuah NGO yang bekerja bersama para survivor yang tergabung dalam Jaringan Udeep Beusaree (JUB). Rombongan Mak Copong terdiri dari 10 orang,yang semuanya adalah kerabarat dekat, yaitu anak, cucu, dan sepupunya.
Sungguh suatu pertunjukan yang luar biasa. Tarian Mak Copong dan kawan-kawan menciptakan suasana batin yang tenang di tengah trauma warga kampung (gampong) yang selamat dari bencana. Penonton sangat terkesan pada gerakan lembut pakarena (penari) di satu sisi, dan pada saat yang sama diiringi tabuhan gendang keras bergemuruh, disertai seruling (Pui-pui) yang melengking tidak terputus. Seorang pengunjung menuliskan kesaksiannya seminggu kemudian. Berikut adalah terjemahan atas catatan yang diposting oleh Prayitno.Net, dalam bahasa Inggris pada 6 Januari 2006.
Rasanya ini adalah sebuah tour of duty. Saya mengunjugi seorang rekan kerja di Lam Awee dalam kaitan dengan program yang sedang kami laksanakan bersama. Setelah melewati jalanan yang rusak dan gelap, akhirnya saya tiba di Lam Awee, sebuah desa di bagian utara Selat Malaka. Kami mendiskusikan permasalahan program dan akhirnya menemukan petunjuk penyelesaiannya.
Saya tidak menyadari akan ada  beberapa acara di tempat itu. Yang saya tahu pada hari itu adalah peringatan satu tahun tsunami. 
Sebuah panggung berbentuk persegi telah berdiri membelakangi laut. Ketika itu MC, Pak Dirman mengumumkan pemain yang akan tampil, yaitu Mak Copong, penari Pakarena dari Makassar. Saya tidak tahu siapa dia dan apa itu pakarena, hingga saya pulang dan mencari beberapa referensi tentangnya. Tetapi, saya tetap berdiri menghadap panggung, mencoba untuk mengapresiasi pertunjukan kesenian etnis itu.
Ada lima penari, Mak Copong adalah salah satu dari mereka. Saya tidak tahu mereka sampai akhir acara. Empat musisi, 1 pemain suling (seruling) dan 3 perkusi. Teman saya, seorang pria Aceh mengomentari baju bodo yang dikenakan para penari.
Mereka memulai pertunjukannya, tetapi saya tidak terlalu banyak perhatian pada awalnya. Sekali lagi, teman saya berkomentar bahwa musik dan tari sangat kontras. Mereka menari sangat lambat, sebaliknya musik sangat cepat, yang membuat pendengaran saya teruju padanya. Saya kurang perhatian pada tariannya. Saya hanya fokus mendengarkan musik.
"Ini adalah hardcore". Saya berkata kepada rekan saya, dan dia tampaknya setuju. Saya tidak tahu bagaimana menggambarkannya, tetapi saya sungguh menikmatinya. Alto suling (pui-pui, admin), dua gendang dan bonang. Saya bisa merasakan jiwa musikalnya.
Musik perkusi dengan kecepatan tinggi melahirkan energi, sementara suling yang menciptakan melodi membuat semuanya menjadi hidup. Mereka bermain sangat dinamis dengan kecepatan tinggi. Beberapa kali saya merasa bahwa ada Metallica, sedikit Dave Mathews Band dan Safri Duo. Tetapi saya yakin bahwa mereka tidak mendapat pengaruh dari band-band itu. Ini adalah musik asli Indonesia.
Saya teringat pada sesuatu yang dikatakan oleh Gatot Widayanto (peresensi progarchives.com), yakni "musicus orgasmus", dan; saya merasa semakin tidak tahu musik negara saya sendiri. Mereka bermain sekitar setengah jam. Saya sungguh beruntung menyaksikan penampilan mereka. Sayangnya, saya tidak membawa kamera yang bagus. Saya hanya mengambil gambar dengan ponsel.

Sumber:
Pakarena in Aceh.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

menarik tawwa blog ini

Posting Komentar