30 Jan 2013

Membandingkan Kemiskinan vs Kemajuan Venezuela vs AS

Pengantar M. Nawir
 Tulisan ini saya terjemahkan secara bebas dari situs Global Research yang berjudul Poverty versus Progress: Comparing the US and Venezuela: What Does it Mean to be "Third World" in 2013. Penulisnya adalah Eric Draitser, pengasuh blog stopimperialism.com. Isi tulisannya biasa-biasa saja, dan karena itu mudah dimengerti. Edisi bahasa inggrisnya klik http://www.globalresearch.ca/ poverty-versus-progress-comparing-the-us-and-venezuela/5321055 atau ke http://stopimperialism.org/articles/poverty-and-progress-comparing-the-us-and-venezuela/.
Yang ingin saya bagi kepada kawan-kawan pembaca dari tulisan ini adalah kemiripan konsep dan istilah kemiskinan dan alat ukurnya, yang dijadikan perbandingan oleh penulisnya dalam konteks Amerika Serikat dan Venezuela. Sebagaimana kita ketahui kedua negeri di benua Amerika ini sejak tahun 2000-an berseteru secara ideologi-politik. Maklumlah, AS di mata sebagian pemerintah di negara-negara Amerika Latin adalah musuh bersama pemerintahan Sosialis. Justru kontrdiksi politis itu yang ditonjolkan oleh Eric, terutama dalam soal pemiskinan oleh sistim ekonomi kapitalis yang dialami kelas pekerja dan penduduk berkulit warna di AS. Menariknya lagi, alat ukur kemiskinan yang digunakan pemerintah AS mirip dengan di Indonesia, yakni alat ukur BPS. Apa jadinya, indikator kemiskinan menjadi semena-mena, dan mengabaikan kondisi lokal-kultural. Cara ini lah yang sekian lama menjajah pemerintah negara-negara Asia dan Amerika Latin sebagai kelas ketiga dari masyarakat dunia. Sebaliknya, di Venezuela mengukur pengentasan kemiskinan secara kualitatif-komprehensif. Tulisan ini mencoba merevisi pemikiran tentang masyarakat Dunia Ketiga. Selamat membaca!#
Kemiskinan vs Kemajuan: Membandingkan AS dan Venezuela
Memaknai
"Dunia Ketiga" di Tahun 2013?
Mengacu pada pengertian konvensional tentang "Dunia Ketiga", maka istilah tersebut merujuk kepada masyarakat yang hidup di negara-negara yang sedang berjuang untuk mencapai tingkat pembangunan ekonomi tertentu, dan sebagian besar dari mereka berada di pinggiran ekonomi global. Namun, situasi dunia telah berubah. Sejak krisis ekonomi tahun 2007-2008, negara-negara yang disebut miskin (dunia ketiga) semakin memperjelas dirinya di tengah-tengah negara-negara maju. Patologi sosial-ekonomi seperti kemiskinan, kelaparan, dan pengangguran telah meroket di negara maju seperti Amerika Serikat, sementara para politisi dan media terus mengapungkan jargon pemulihan ekonomi.
Jika kita mempertanyakan siapa sebenarnya yang menikmati suatu pemulihan ekonomi, masyarakat miskin atau orang-orang wall-street, maka kita sampai pada analisis tentang situasi yang tampak sebagai kemajuan. Salah satu cara melakukannya adalah dengan menganalisis data statistik tentang Amerika Serikat versus Venezuela. Analisis ini membantu kita mendapatkan gambaran yang lebih jelas, bebas dari distorsi media dan politisi, tentang kemajuan yang telah dicapai selama Revolusi Bolivarian; sementara situasi masyarakat miskin dan kelas pekerja di AS terus memburuk.
Pengertian Kemiskinan
Sebelum kita mencapai kesimpulan tentang kemiskinan di Amerika Serikat dan Venezuela, terlebih dahulu kita menetapkan perbedaan mencolok dalam cara mengukur kemiskinan di kedua negara tersebut. Di AS, kemiskinan diukur berdasarkan pendapatan rumah tangga, dengan batas tertentu yang dikenal sebagai "garis kemiskinan" yang ditentukan oleh Biro Sensus. Di AS, secara sepihak pengukuran didasarkan pada penggambaran murni antara kemiskinan dan "non-kemiskinan". Analisis dan pengukuran tersebut mengabaikan fakta bahwa ada perbedaan nyata antara kehidupan mereka yangsedikit di atas” dan “sedikit di bawah” garis kemiskinan dalam keadaan konstan. Selain itu, faktor kenaikan inflasi, penurunan upah, dan faktor lain terus mempengaruhi daya beli dan kehidupan orang miskin, sehingga garis kemiskinan menjadi lebih problematis.
Sebaliknya, pemerintah Venezuela memiliki seperangkat pengukuran yang jelas berbeda dengan AS dalam menentukan status kemiskinan, termasuk akses pendidikan, air bersih, perumahan yang layak, dan faktor lainnya [i]. Tolak ukur kemiskinan bukanlah pendapatan, tetapi kualitas hidup. Dengan cara ini, pemerintah Venezuela memberikan gambaran yang jauh lebih komprehensif mengenai situasi sosial-ekonomi masyarakatnya. Tidak seperti di Amerika Serikat, statistik kemiskinan di Venezuela menjadi salah satu kekuatan pendorong utama di balik pembentukan kebijakan pemerintah. Sementara di AS, kemiskinan telah menjadi “bahasa kotor atau menjijikkan”(dirty word), setidaknya terbukti dalam perdebatan presiden tahun lalu. Justru Chavez dengan Revolusi Bolivariannya telah membuat kondisi kemiskinan itu menjadi inti dari kebijakan publik pada semua aspek.
Tampilan Angka Statistik
Dengan menguji data statistik yang disusun oleh Biro Sensus Amerika Serikat, ditemukan banyak fakta yang sangat mengganggu. Pertama, pada tahun 2012, garis kemiskinan untuk “rumah tangga tipe keempat” (a typical family of four) merupakan gabungan dari pendapatan kotor (bruto) sebesar $ 23.050 [ii]. Indikator ini berasal dari penghasilan bruto sebagai lawan laba bersih (netto), yang tidak mencerminkan gravitasi dari situasi yang dihadapi oleh keluarga. Bahkan, orang awam pun yang mengeluarkan biaya hidup selama tinggal di Amerika Serikat segera dapat menduga bahwa "garis kemiskinan" (poverty line) adalah lelucon yang kejam. Ini berarti tingkat pendapatan yang rendah sama dengan kurangnya pemenuhan kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia. Jadi, pada dasarnya, kita tidak berbicara tentang "orang miskin" (the poor), tetapi bicara tentang orang-orang yang hidup di ambang kematian dengan masalah seperti kekurangan gizi (malnutrisi), penyakit akut, dan rintangan lain yang tidak terhitung jumlahnya. Perlu juga dicatat bahwa pendapatan rata-rata rumah tangga (bukan hanya mereka yang miskin) terus menurun secara dramatis sebesar 8,1% sejak tahun 2007[iii]. Menjadi jelas lah bahwa kemiskinan tidak hanya melebar, tetapi juga bertumbuh.
Sudah lama disebut-sebut California sebagai negara bagian yang paling ekonomis untuk hidup di AS. Lebih dari sekedar kawasan Silicon Valley dan pantainya yang indah, California menyembuyikan pemukiman penduduk dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Amerika Serikat. Menurut Supplemental Poverty Measure dari Biro Sensus (BPS) AS, California memiliki tingkat kemiskinan 23,5% [iv]. Jika angka itu disertakan dengan penduduk yang secara teknis tidak sesuai dengan ukuran kemiskinan konvensional, yang umumnya hidup dalam ekonomi marjinal, maka kemiskinan begitu cepat menjadi epidemi di California.
Pakar ekonomi Universitas Wisconsin Madison, Timothy Smeeding menjelaskan, "Secara keseluruhan, jaring pengaman sosial mengcover masyarakat kalangan atas California, sementara kelompok masyarakat lainnya masih terus berjuang untuk memenuhi persyaratan kupon makanan dan manfaat lainnya" [v]. Sesungguhnya, kita menyaksikan bahwa di kawasan penduduk yang paling padat di negara bagian yang disebut-sebut paling ekonomis itu, situasi kemiskinannya mengenaskan karena semakin banyak orang tergantung pada program-program pemerintah untuk sekadar bertahan hidup. Dengan latar belakang penghematan atau pun "reformasi hak" (entitlement reform) yang diperjuangkan oleh Republikan dan kaum Demokrat akan membuat jutaan orang Amerika semakin kritis.
Penghasilan, bukan dan tidak harus dilihat sebagai satu-satunya indikator kemiskinan dan status ekonomi. Ada banyak faktor lain termasuk akses ke nutrisi yang tepat, sangat penting bagi pertumbuhan anak-anak dalam situasi kemiskinan. Bahkan, data terbaru dari USDA (2011) menunjukkan bahwa setidaknya 18 juta rumah tangga di AS yang rawan pangan [vi]. Ini hanyalah puncak gunung es dari jutaan rumah tangga yang tidak dikategorikan sebagai "rawan pangan", yang tidak mampu mengakses makanan berkualitas tinggi. Merekah adalah rumah tangga yang bergantung pada program pemerintah seperti Program Bantuan Nutrisi Tambahan (SNAP) yang sebelumnya dikenal sebagai kupon makanan. Kurangnya akses terhadap makanan yang bergizi tinggi adalah karakteristik kaum miskin perkotaan, di mana setiap warga terutama yang berkulit warna tertentu berjuang memberi makan anak-anaknya dengan makanan cepat saji atau makanan berkualitas rendah dibeli di sudut toko.
Pembelajaran dari analisis atas informasi di atas bahwa kemiskinan dan keamanan pangan adalah penanda kelas sosial tertentu, tidak melulu indikator dari kesulitan ekonomi. Amerika Serikat adalah rumah bagi tumbuh-kembangnya kelas bawah, yang mencakup kelas pekerja dan orang kulit putih, tetapi menyisakan penderitaan bagi masyarakat kulit berwarna. Di setiap kota besar, dimana masyarakat kulit putih lebih makmur, kondisi kemiskinan telah menjadi kenyataan yang selalu hadir, yang tersembunyi di balik jargon "pemulihan ekonomi" Amerika Serikat.
Model Venezuela
Berbeda dengan AS, masyarakat Venezuela terus membuat kemajuan luar biasa dalam memberantas kemiskinan; dari bangsa yang, selama puluhan tahun telah menjadi salah satu yang paling miskin dan paling tertindas di Amerika. Meskipun kekayaan minyak yang luas dan sumber daya yang melimpah, Venezuela ditandai dengan kemiskinan, khususnya di kalangan penduduk asli dan petani. Ini adalah produk dari sistem kolonial dan pasca-kolonial dimana, elit minoritas berkulit putih mendominasi negara. Situasi ini mulai berubah dengan naiknya Hugo Chavez dengan Revolusi Bolivariannya. Chavez menjadi pahlawan bagi kaum miskin Venezuela. Dia mewujudkan model sosialismenya yang menjadikan perang mengentaskan kemiskinan sebagai inti dari kebijakan publik. Ini lah yang terjadi dalam empat belas tahun jabatannya.
Seperti disebutkan sebelumnya, Venezuela menggunakan seperangkat kriteria untuk mengukur kemiskinan, termasuk akses terhadap pendidikan, air bersih, perumahan yang layak, rumah tangga dengan lebih dari tiga orang yang tinggal di sebuah ruangan, dan rumah tangga dimana kepala rumah tangga memiliki kurang dari tiga tahun pendidikan. Kebijakannya dikenal sebagai sistem Pemenuhan Hak Dasar (Unsatisfied Basic Need – NBI). Dalam sepuluh tahun terakhir, jumlah masyarakat Venezuela yang hidup dalam kemiskinan ekstrim (orang-orang yang mengalami dua dari lima indikator kemiskinan) telah menurun dari 11,36% menjadi 6,97%. Pada saat yang sama, harapan hidup dan jumlah penduduk telah meningkat secara signifikan, menunjukkan dampak dari pelayanan kesehatan yang lebih baik dan lebih komprehensif. Salah satu bagian penting dari data yang berkaitan dengan masyarakat adat, kelompok yang paling terpinggirkan secara historis. Dalam sepuluh tahun terakhir, jumlah mereka telah tumbuh secara signifikan juga, sekarang hampir 3% dari populasi [vii]. Ini menunjukkan bahwa tidak hanya peningikatan kualitas program layanan kesehatan, akses kepada penduduk dari segmen tradisional pun meningkat.
Perlu dicatat bahwa salah satu program andalan pemerintah Bolivarian Chavez adalah pembangunan perumahan publik yang terjangkau. Presiden Chavez mengumumkan The Great Housing Mission (GMVV) [viii] pada tahun 2011 bagi rumah tangga berpendapatan rendah yang hidup di rumah yang tidak memadai atau tidak aman. Pada September 2012, lebih dari 250.000 rumah telah dibangun dan diberikan kepada rumah tangga miskin [ix].
Di tengah krisis ekonomi global, dimana banyak negara maju yang melakukan penghematan, justru pemerintah Chavez terus memperluas belanja program pengentasan kemiskinan seperti pembangunan perumahan dan perawatan kesehatan. Revolusi Bolivarian diarahkan untuk mengurangi dan akhirnya memberantas kemiskinan yang merupakan warisan sejarah dan realitas masyarakat Venezuela pasca-kolonial Amerika Serikat. Komitmen Chavez adalah membalikkan warisan itu, lebih dari apa pun, diabadikan dalam hati dan pikiran rakyat Venezuela.
Sebaliknya, ekonomi kapitalis maju dari Amerika Utara dan Eropa berupaya mati-matian untuk mempertahankan hegemoni mereka dan kelangsungan hidup ekonomi melalui program penghematan yang menggeser beban depresi dari pemodal kaya dan spekulan yang diciptakan untuk orang miskin dan kelas pekerja. Pemotongan biaya jaminan sosial dilakukan, padahal jutaan orang Amerika menggantungkan kelangsungan hidupnya pada program tersebut. Tidak seperti di Venezuela, warisan kekaisaran Barat berusaha untuk menghancurkan jaring pengaman sosial dan mendorong mereka ke dalam kemiskinan. Hal inilah yang memicu krisis kapitalisme negara maju, pasca-industri, dimana sistem ekonomi memperlebar kesenjangan antara kaya dan miskin, menciptakan kekayaan dan kemiskinan yang ekstrim. Dilihat dengan cara ini, Partai Republik dan Demokrat, Presiden Obama dan Ketua DPR Boehner sama-sama bersalah atas penderitaan dan keputusasaan orang-orang miskin di AS setelah menyadari kemajuan Venezuela dengan Revolusi Bolivariannya sebagai model yang benar-benar progresif di masa datang.
Referensi:
[vii]Ibid.
[ix]http://venezuela-us.org/2012/09/07/nearly-250000-homes-built-by-venezuelas-great-housing-mission/ 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar