1 Mei 2014

Sang Profesor Swasta: Pikiran dan Pandangan Hidup Ishak Ngeljaratan

Oleh M. Nawir
Judul tulisan di atas bersumber dari naskah drama karya Ishak Ngeljaratan. Profesor Swasta, sebuah drama liturgi yang dipentaskan di Balai Manunggal dalam rangkaian Dies Natalis Unhas ke (32?) tahun (1988?). Saya salah seorang mahasiswa Kelompok Studi Sastra dan Teater (Kosaster) yang figuran bersama belasan mahasiswa yunior lainnya. Pemain senior di antaranya Shaifuddin Bahrum, Dasri Mashud, dan Mustam Arief. Pementasan tersebut disutradarai oleh Fahmi Syariff dan Jacob Marala (almarhum) dengan produser Dr. Abd. Razak Thaha dan Ridwan Effendy (almarhum).
Suatu adagium dalam bahasa Yunani yang menjadi latar tematis pementasan tersebut, yaitu Si Vis Pacem Para Bellum. Ungkapan yang sama dalam bahasa Indonesia “jika ingin damai, bersiaplah untuk perang”. Di balik adagium peperangan dan perdamaian, terletak idealisme kemanusiaan (human interest) yang terus menerus diwacanakan oleh kaum intelektual dan teolog sepanjang zaman. Dan, pemikiran pak Ishak selalu berada di antara dua sisi mata uang realitas ‘perang dan damai’ itu. Hingga kini pun saya memahami sosok Ishak Ngeljaratan yang sesungguhnya adalah pecinta kemanusiaan sejati.
Tulisan ini tidak bermaksud mempersonifikasi Ishak Ngeljaratan dengan sang tokoh drama Profesor Swasta. Secara gestalt – katakanlah demikian – saya menafsirkan gelar akademis profesor dengan kualitas seorang tokoh seperti pak Ishak yang telah melampaui gelaran profesor. Pengertian umum profesor adalah seseorang yang memiliki keyakinan dan pandangan tertentu yang mendapatkan pengakuan publik sebagai pakar atau pun mahaguru. Dalam kamus bahasa Inggris, profesi profesor berkaitan dengan dua hal; pertama, perikatan diri pada jabatan akademis di universitas; dan kedua, perikatan diri pada Kitab Suci dan Gerejanya. Secara normatif, seorang profesor memiliki empat fungsi. Pertama, memimpin kuliah dan seminar dalam bidang keilmuannya baik ilmu murni, sastra maupun bidang-bidang ilmu terapan. Kedua, melakukan penelitian sesuai bidang keilmuannya; Ketiga, pengabdian kepada masyarakat, termasuk fungsi konsultasi di bidang pemerintahan, politik, dan non-pemerintahan; Keempat, melakukan pengkaderan bagi para akademisi atau pun intelektual muda, termasuk mahasiswa, agar mereka mampu menjadi asisten agar kelak mereka siap menggantikannya. (sumber: wikipedia bahasa Indonesia).
Dari pengertian di atas, saya memaknai ‘profesor’ Ishak Ngeljaratan bukanlah profesor biasa. Justru dengan keluarbiasaannya itu, pak Ishak berterima pada semua kalangan dan bidang keilmuan. Jika diandaikan profesor akademis itu “gila ilmiah”, maka ‘profesor swasta’ tergila-gila pada pengabdian. Pada dirinya, melekat fungsi sebagai mahaguru, kritikus, budayawan, filosof, dan teolog. Tidak banyak pakar yang terus terang mendeklarasikan agama yang dianutnya adalah kebudayaan (= kemanusiaan). Terkesan bercanda, sesungguhnya serius. Terdengar sekuler, sebenarnya teologis. Sepertinya universal, ternyata sangat kontekstual. Bukankah jauh sebelum kita ‘beragama’, orang Bugis-Makassar sudah meyakini adanya sang Dewata Seuwae. Itulah teologi pembebasan ala Ishak Ngeljaratan. Dia menyadari betul realitas kebangsaan Indonesia yang sangat religius dan kaya dengan nilai-nilai profetik. Tetapi, kenyataannya, bangsa ini terus menerus didera konflik rasial yang dimainkan oleh kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama, suku dan golongan. Terhadap hal ini, pak Ishak dengan tekun menyebarkan paham kebebasan manusia (human freedom), toleransi antar-komponen masyarakat (pluralism), dan persatuan dalam negara kesatuan (Bhinneka Tunggal Ika). Ajaran yang paling sering ditegaskannya adalah saling memanusiakan manusia (Sipakatau).
Memahami Pak Ishak
Mendengarkan Ishak Ngeljaratan bicara dan berdiskusi saya seringkali merasa tersesat dalam belantara wacana  yang begitu abstrak dan meluas. Barulah pendengar bisa mengerti maksud pembicaraannya dari ilustrasi maupun analogi. Pembaca haruslah membaca utuh gagasannya, dan mengambil makna secara ganzheit. Metode ganzheit bersumber dari teori psikologi Gestalt. Sebuah teks atau pun wacana bersifat satu kesatuan konsep dan pemikiran penulis atau pun penuturnya yang tidak bisa dipecah-pecah dahulu dalam pemaknaannya. Setelah itu barulah pembaca atau pendengar bisa menemukan sesuatu yang bermakna baru - suatu rasa cinta pada kemanusiaan, sesuatu yang mencerahkan, yang tidak selalu harus diungkapkan. Bagi saya, memahami jalan hidup dan pemikiran pak Ishak seperti membaca dan melantunkan puisi Sapardi Djoko Damono (Aku Ingin, 1989) tanpa harus mendiskusikannya.
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Tidak  berarti keyakinan dan pandangan hidup Ishak Ngeljaratan dalam berbagai karyanya tidak bisa dianalisis secara teoritik. Dalam perkembangan ilmu pengetahuan di Nusantara, telah dikembangkan model Sosiologi Profetik sebagai counter-hegemony positivisme ilmu pengetahuan Barat. Ilmu Sosial Profetik relevan dan kontekstual dengan perkembangan pemikiran Filsafat, Sastra dan Agama. Salah seorang narasumber teori sosial profetik adalah profesor Kuntowijoyo (almarhum). Dirumuskan bahwa Sosiologi Profetik menggabungkan kemampuan kritis ilmu sosial dan nilai-nilai agama dalam satu bingkai paradigma ilmu sosial yang utuh dan integral. Jalan tengahnya adalah metode objektivikasi, yakni penafsiran nilai-nilai subjektif agama dalam kategori-kategori objektif agar dapat dipahami semua orang tanpa perlu bergantung lagi pada nilai-nilai asal agamanya. Dalam obyektifikasi, nilai-nilai obyektif dari semua agama, ideologi, kepercayaan atau aliran filsafat dapat saling berkomunikasi, lepas dari egosentrisme ideologisnya (lih. Husnul Muttaqien dalam http://sosiologiprofetik.wordpress.com/2008/01/18/menuju-sosiologi-profetik/, 18 Januari 2008).
Tiga kata kunci yang menyatu dalam pemikiran Ishak Ngeljaratan, yakni memanusiakan manusia (Humanitoirisasi/humanisasi), pembebasan manusia dari belenggu positivisme iptek (Liberasi), dan pencerahan manusia dari nafsu duniawi (Transendensi). Ketiga konsep tersebut tidak akan dibahas satu persatu dalam tulisan ini. Saya hanya ingin mengemukakan tiga hal berkaitan dengan persepsi saya mengenai pemikiran dan keteladanan seorang mahaguru sekaligus sahabat, Ishak Ngeljaratan.
Cendekiawan dan Seniman
“Filsafat adalah filsafat, yang non-filsafat bukanlah filsafat”. Begitu bunyi kalimat pembuka dalam satu tulisan Ishak Ngeljaratan tahun 1990.
Secara pribadi saya termasuk murid dan juga sahabat yang lebih banyak mengenal pak Ishak dari tulisan, dan ceramah beliau di kampus dan dalam berbagai forum diskusi kesenian, sosial dan demokrasi. Dalam hati saya masih beruntung masih sempat berjumpa dengannya di kampus, gedung kesenian, forum LSM, Ormas, Gereja, Wartawan, juga bersama Politisi dan Birokrat. Suatu momen yang tidak banyak dihadiri para akademisi maupun seorang profesor. Pada masa pra-reformasi, saya mengenal pak Ishak sebagai dosen dan ketua Dewan Kesenian Makassar. Pasca reformasi hingga kini, beliau ada dimana-mana. Beberapa peristiwa penting dimana pak Ishak ikut andil antara lain; pernyataan pers menolak pembredeilan Tempo, Detik dan Editor tahun 1994; doa bersama bagi kesehatan Gusdur (KH. Abdurrahman Wahid) tahun 1998; pernyataan keprihatinan bersama sehubungan dengan maraknya peristiwa pengrusakan tempat ibadah (1999), dan beliau termasuk penggagas pentingnya organisasi antikorupsi (ACC) di Makassar tahun 2000. Hingga kini pun, pak Ishak paling bersemangat menjadi narasumber bagi aktivis pro toleransi antarumat beragama.
Meskipun ada dimana-mana, pak Ishak tetaplah seorang pemikir sastra dan filsafat yang konsisten. Baginya, sastra dan filsafat, atau secara kongkrit eksistensi seniman dan cendekiawan bukanlah makhluk yang bebas nilai. Sastra dan filsafat “menentukan sekaligus ditentukan, otonom sekaligus otonominya ditentukan oleh keberadaan realitas lainnya”.  Kemandirian seorang cendekiawan bukanlah otonomi tirani yang tak tahu diri dan terisolasi dari kebersamaannya dengan masyarakat dan lingkungan, begitu tulis pak Ishak pada tahun 1991 (lih. Api Curian Promotheus, 122:2009).
Etika dan Estetika
Filosofi dasar pemikiran Ishak Ngeljaratan adalah Etika dan Estetika. Kedua cabang filsafat ini menyatu dalam berbagai tulisan maupun tuturannya. Pak Ishak sangat peduli pada etika Bugis Makassar yang dapat diteladani dari cara hidup sehari-hari maupun dikaitkan dengan gagasan dan kritiknya terhadap perilaku pemimpin. Pak Ishak sehari-hari adalah warga negara Republik Indonesia yang mengajar kemana-mana dengan menggunakan kendaraan umum. Kadangkala harus dijemput-antar oleh orang lain. Berpakaian biasa saja, seperti kebanyakan warga kota yang bersahaja. Yang menyapa lawan bicaranya dengan pertanyaan pertemanan. Saya sering berkesimpulan sendiri, pak Ishak itu tidak bisa bawa mobil sendiri, sehingga tidak berminat beli mobil pribadi. Tetapi, semangat beliau pergi-pulang memenuhi tugas mengajar atau pun menghadiri acara selalu dipenuhinya. Suatu gaya hidup yang kontradiktif dengan kebanyakan guru besar di kampus-kampus ternama.
Ishak Ngeljaratan adalah budayawan yang melakoni etika sehari-hari harus sejalan dengan ucapan dan pikiran. Dalam berbagai forum, pak Ishak yang asli Maluku Tenggara itu seringkali menekankan nilai-nilai Siri na Pesse, Lempu na Getteng sebagai nilai-nilai etika dasar orang Bugis-Makassar. Etika dasar yang dimaksud, yaitu seseorang dikatakan manusia apabila dalam dirinya melekat Siri na Pesse. Dan, pak Ishak melihat etika ini nyaris punah dalam kepemimpinan orang Bugis-Makassar dewasa ini. Sudah tidak terhitung berapa banyak forum diskusi dimana pak Ishak mengurai etika tersebut. Bahkan, dihadapan para pejabat pemerintah maupun politisi pun, beliau mengemukakan nilai-nilai tersebut sebagai kritik. Rasanya lelah juga mendengarkan nilai-nilai Siri na Pesse itu terus diulang pak Ishak, sementara perilaku pejabat dan elit politisi di Susel jauh dari etika kepemimpinan Bugis-Makassar.
Dalam hal estetika, cita rasa seni Ishak Ngeljaratan teramat tinggi (ideal) bila ditakar dari kebanyakan penikmat seni populer. Seni tidak semata-mata meniru atau pun merefleksikan realitas alam – ars imitatur naturam (mimesis plato). Lebih dari itu adalah seni menjangkau sesuatu yang khas, yang membedakannya dari karya-karya manusia pada umumnya. Sebuah puisi dikatakan indah bukan hanya mencerminkan kejelasan, keteraturan dan berharmoni dengan alam. “Sebuah puisi yang sungguh-sungguh puisi mencerminkan sesuatu yang lebih yang mudah dikatakan keindahan”. Bagi pak Ishak dalam konsep keindahan terkandung unsur yang rasional dan supranatural. Sesuatu dikatakan indah apabila melahirkan daya pesona, daya gugah, daya gugat, daya pencetus serta membangkitkan haru dengan seribu satu macam cita rasa rohani di balik kemasan pesan yang ditata secara teratur, jelas dan harmonis (FSUH, 2 Agustus, 1990).
Ishak Ngeljaratan pengagum Aristoteles, yang memandang seniman lebih tinggi derajatnya daripada seorang tukang kayu. Sebaliknya, kebanyakan tukang kayu dan kelas buruh sangat menikmati seni pop, terutama musik dangdut. Saya bertanya, apakah pak Ishak suka lagu dangdut, atau setidaknya kepala dan pinggulnya ikut bergoyang ketika mendegar Rhoma Irama berdendang dan Inul Daratista ngebor.  Atau pun sekurang-kurangnya seminggu sekali menonton pentas KDI di televisi. Ini sekadar pertanyaan. Yang saya tahu, pak Ishak jarang diundang sebagai pembicara di forum-forum seni populer. Dalam tulisannya tentang budaya massa, pak Ishak menilai budaya massa, juga seni pop itu berselera rendah. Produk kebudayaan seperti itu hanya memberikan kenikmatan duniawi. Menurutnya, budaya massa bukanlah kebudayaan dalam maknanya yang hakiki  karena menyimpang dari tujuan manusia, yakni memenuhi aspek material (dunia) dan immaterial (akhirat) sekaligus (Menyoroti Budaya Massa, Maret 1994).
Kebebasan dan Demokrasi
Ishak Ngeljaratan pendukung berat kebebasan dan demokrasi. Nyaris tidak ada aktivis yang akan membantah pernyataan tersebut. Seperti apa kebebasan dan demokrasi yang dia maksud? Seringkali pak Ishak membandingkan kemerdekaan manusia dengan binatang. Seseorang dikatakan merdeka bila dia berusaha mengungkapkan kebebasannya. Dalam kebebasannya itu, manusia secara sadar membuat pilihan-plihan, sekaligus menerima atau menolak segala konsekuensi maupun resikonya. Seorang budak atau pun narapidana juga memiliki kebebasan, tetapi tidak memiliki kemerdekaan. Dia tidak merdeka karena ruang gerak dan kesempatannya terbatas, sehingga tidak bebas mengungkapkan kebebasannya. Binatang di hutan tampak hidup bebas-merdeka, tetapi selalu disebut binatang liar. Dan, karena keliarannya itu, maka binatang tidak memiliki pilihan dan tujuan yang jelas (cita-cita).  Jadi, kebebasan haruslah didasari oleh kesadaran agar usaha manusia mencapai cita-citanya tidak melakukan dehumansasi dan penindasan atas manusia lainnya.
Asas demokrasi adalah kebebasan. Secara konstitusional, kebebasan dalam konteks politik demokrasi adalah kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat. Pada masa Orba, kebebasan warga negara, termasuk kaum intelektual, budayawan, seniman dibelenggu oleh sistim demokrasi yang otoritarian. Dikatakan otoritarian karena kekuasaan memusat pada satu kekuasaan presidensil, yakni Soeharto. Partai politik dipres menjadi tiga dan dikontrol oleh pemerintah, sehingga fungsi parlemen menjadi mandul. Demikian halnya lembaga pers. Pembatasan hingga pemberangusan terjadi bila bertentangan dengan kebijakan politik pemerintah Orba. Kebanyakan Ormas juga LSM dikebiri dan hanya menjadi pelaksana proyeh. Kampus dan mahasiswa dinormalisasi dengan sistim SKS. Mimbar-mimbar bebas diawasi, dan perlawanan mahasiswa direpresi oleh pemerintahan Soeharto. Diandaikan kebebasan warga negara pada masa Orba adalah kebebasan seorang hamba atau pun narapidana. Sebaliknya, banyak pengamat mengandaikan kebebasan dalam era reformasi dewasa ini seperti kebebasan binatang. Bebas, tetapi tidak terarah dan tidak jelas tujuannya.
Mahasiswa dan intelektual kampus sangat berperan menyuarakan, bahkan menggerakkan massa rakyat untuk menuntut kebebasan. Pak Ishak berada di antara beberapa intelektual kampus yang menyokong kebebasan mahasiswa membangun aksi-aksi massa menuntut perubahan. Tentang hal ini, pak Ishak anti-“anarkisme”. Ia menegaskan tujuan dan cara aksi massa harus sejalan dengan etika dan budaya. Pencapaian tujuan yang benar melalui cara yang tidak benar, pencapaian tujuan yang jahat melalui cara yang benar, dan pencapaian tujuan yang jahat melalui cara yang tidak benar adalah suatu proses yang anti-budaya yang hanya menghasilkan sesuatu yang juga anti-budaya (Menyoroti Budaya Massa, 1994)    
Dalam konteks kebangsaan, Ishak Ngelajaratan adalah tokoh reformis, yang senantiasa menganjurkan perlunya melakukan perubahan sistim politik secara etis. Ini kesimpulan sepihak saya dalam suatu diskusi di pelataran Baruga Pettarani Kampus Unhas (2010). Selain itu, pak Ishak termasuk salah seorang deklarator Ormas Nasional Demokrat (Nasdem) yang mempromosikan restorasi perubahan. Dengan kecintaannya yang begitu besar pada nilai-nilai kemanusiaan dan pembelaannya yang sungguh-sungguh pada pluralisme, rasanya pemikiran Pak Ishak tidak sejalan dengan tuntutan kaum revolusioner ala Leninisme maupun Marxisme. Tetapi, dalam banyak forum diskusi kritis, Pak Ishak sepakat untuk melakukan pemotongan generasi sebagai jalan pintas melakukan perubahan sistim demokrasi yang liberal sekaligus kapitalistik seperti saat ini. Ini artinya, pak Ishak tidak percaya atau pun tidak punya harapan pada generasi pemimpin reformis saat ini untuk melakukan perubahan mendasar. Jika memang demikian, maka kepemimpinan politik di masa datang harus direbut oleh pemimpin baru yang progresif dan konstitusional, yang mencintai kemanusiaan seutuhnya. Mengutip ungkapan populer Che Guevara bahwa sesungguhnya seorang revolusioner sejati  didasari oleh sikap dasar dan rasa cinta yang mendalam pada kemanusiaan.
Semoga dengan semakin memahami Ishak Ngeljaratan, saya semakin mencintai kemanusiaan.
Makassar, 1 Mei 2014
*M. Nawir, social-urbanist. Pendiri Institut Rumah Kampung Kota (rumahkampungkota.blogspot.com). Masih bekerja untuk UPC dan Komite Perjuangan Rakyat Miskin.

Referensi:
1.  Ishak Ngeljaratan, 1990. Tinjauan Filsafat Sastra. Catatan Pengantar AntarMahasiswa Fak. Sastra Unhas pada LKMM dan Lokakarya OPSPEK, 2 Agustus 1990.
2.    Ishak Ngeljaratan, 1992. Bahasa dan Sastra Indonesia Penentu Utama Corak Kebersatuan. Pokok-pokok Pikiran Antar Peserta Forum Studi Sastra dan Bahasa Fakultas Sastra Unhas, 14 Desember 1992.
3.     Ishak Ngeljaratan, 1993. Refleksi Perkembangan Bangsa Lewat Sastra. Makalah dalam Acara Seminar Bulan Bahasa dan Ulang Tahun XXXIV Fakultas Sastra Unhas, 8-10 Nopember 1993.
4.      Ishak Ngeljaratan, 1994. Menyoroti Budaya Massa, Sebuah Tinjauan Reflektif. Bahan Diskusi AntarPeserta “Dialog Kebudayaan” yang diselenggarakan Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unhas, 25 Maret 1994.
5.   Ishak Ngeljaratan, 2009. Api Curian Promotheus dan Esai-esai Lainnya. Aslan Abidin, ed. Nada Cipta Litera Bekerjasama Penerbitan Kampus Identitas Unhas, 2009.
6.    Husnul Muttaqien dalam http://sosiologiprofetik.wordpress.com/2008/01/18/menuju-sosiologi-profetik/, 18 Januari 2008).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar