Setiap tahun di kampungku, pemuda atau pun remaja
merayakan Hari Kemerdekaan 17 Agustus dengan berbagai lomba, dan diakhiri
dengan apa yang mereka sebut Malam Pesta Rakyat. Tanpa diskusi, apalagi debat
soal kedaerahan versus nasionalisme yang kadang melelahkan. Yang pokok bagi
pemuda-remaja lorongku ini adalah kemeriahan berolahraga, bermain, dan
pertunjukan seni yang tidak kalah serunya.
Perkumpulan sosial-urbanis, bekerja untuk mewujudkan tata kota berkeadilan sosial, ekonomi, dan politik.
24 Agu 2016
Seni dalam Kampung Kota
7 Mei 2016
TENTANG MORALITAS GURU
Beda dahulu dengan
sekarang. Tidak berarti mengidolakan yang dahulu, yang sekarang bukan idola.
Sudah terlanjur melekat nilai-nilai kemuliaan pada sesuatu atau seseorang yang
dahulu. Misalnya, guru ‘umar bakri’ versi lagu Iwan Fals, yang ‘jujur
berbakti’, yang menghasilkan profesor, insinyur
dan menteri. Tetapi, sang guru masa lalu itu masih ‘bersepeda kumbang’
dengan tas dari ‘kulit buaya’.
21 Mar 2016
Menganut Aliran Abstrak, Peniup Peluit Ini Mengaku Hidup Karena Panggilan Jiwa
Dewicha Kinanti Tandiari
14/364952/SA/17389
14/364952/SA/17389
Dalam sehari, saya
menjumpai kurang lebih lima tukang parkir di beberapa tempat tertentu. Mulai
dari supermarket, pasar, hingga warung-warung kecil di pinggir jalan. Dari
beberapa jenis tukang parkir yang saya jumpai, ada satu yang menarik perhatian.
Tubuhnya terbilang pendek, pakaiannya rapi, peluit dikalungkan di leherny,
serta memakai sepatu gunung berwarna jingga. Jemarinya bergerak memutar
membersihkan motor dan helm pengunjung warung makan menggunakan kain lap.
Sungguh pemandangan yang tidak biasa dari seorang tukang parkir. Tidak lupa Ia
memberi senyum dan mengucap terima kasih dan hati-hati dengan bahasa jawa
kepada pengunjung yang telah Ia bersihkan motornya. Ya, begitulah kiranya
seorang tukang parkir “teladan” dalam versi saya, Pak Budi Santoso namanya.
Beliau sehari-hari menjadi tukang parkir di beberapa warung di daerah Kuningan,
Karangmalang, Yogyakarta. Sudah tiga kali saya makan di salah satu warung
tersebut, dan saya selalu senang melihat Bapak berumur 54 tahun itu bekerja
dengan sangat tekun, meski hanya mengelap motor yang parkir disana. Pak Budi,
begitu sapaan akrabnya, sudah bekerja menjadi tukang parkir selama empat tahun.
Saya menyempatkan diri untuk ngobrol
dengan Pak Budi. Kisah hidupnya ternyata amat menarik, penuh tanggung jawab dan
kerja keras. Ia selalu mengaku bahwa dirinya hanya ‘orang kecil’, tapi saya
tahu, semangat hidupnya jauh lebih besar dari itu.
22 Feb 2016
Orang Kecil yang Berfikir Besar: Sosok Pejuang Rakyat
Aman Wijaya
(https://indonesiana.tempo.co/read/63752/2016/02/22/aman.wijaya.aman/orang-kecil-yang-berfikir-besar-sosok-pejuang-rakyat)
Saya mengenalnya enam
tahun yang lalu di sebuah warung kopi di kota Makassar. Saat itu, saya yang
kebetulan sedang mem-browsing tugas perkuliahan, mengamati para pengunjung
warkop tersebut dan mendapati sekumpulan orang yang sebagian besar dari mereka
adalah senior saya di kampus. Di antara mereka, ada sosok yang sama sekali
tidak ku kenali. Waktu itu, dia hanya diam mengamati rekan-rekannya yang sedang
berdiskusi. Di sela-sela pendiskusian, sekali-sekali rekan-rekannya memotong
pendiskusian dan meminta pendapatnya. Namun orang itu hanya mengangguk-ngangguk
tanpa sepatah kata. Selang beberapa minggu, di tempat yang sama, orang itu
muncul lagi. Dan seorang teman memperkenalkan saya padanya. M.Nawir, itulah
namanya.
Setiap
kali saya mengunjungi warung kopi itu, saya selalu mendapati dirinya di
tengah-tengah pengunjung lainnya. Tapi karena belum beberapa lama mengenalnya,
saya masih enggan untuk menginisiasi sebuah obrolan bersama dirinya. Padahal
saya begitu penasaran, karena beberapa dosen saya seringkali mengatakan bahwa,
“Nawir adalah sosok yang berpotensi menjadi orang kaya, namun tetap memilih
menjadi miskin”. Selain itu, katanya dia juga dikenal sebagai sosok pekerja
sosial yang yang terampil, tak kenal lelah, dan jadi buah pembicaraan publik
utamanya rakyat miskin kota. Sebab itu, saya coba menanyakan banyak hal ke
seorang senior yang cukup dekat dengannya.
13 Feb 2016
INDONESIA BAGIAN DESA SAYA
Judul postingan di atas dipetik dari sebuah buku karya
Emha Ainun Nadjib, yang berisi 29 tulisan esais tentang dinamika budaya
pedesaan dalam perubahan sosial di era 1990-an. Buku ini merefleksikan situasi kritis masyarakat pedesaan pasca pemilu 1992. Cak Nun memandang politisasi dan
modernisasi desa oleh orang-orang kota adalah sumber permasalahan, yang
menimbulkan gejolak sosial yang mendalam. Menguatnya kepentingan kepentingan kelompok
dominan (status quo), dalam hal ini partai Golkar, disertai dengan penetrasi gaya hidup kaum
metropolis telah mengubah tidak hanya mengubah pola relasi antarwarga, lebih dari itu
merusak sendi-sendi moral-spiritual masyarakat desa.
26 Jul 2015
MENGGALANG KEKUATAN KONSUMEN: Pengalaman YLK Sulsel 1992-1999
Penulis memuat tulisan ini sebagai kenangan bagi almarhumah Zohra Andi Baso, mantan ketua YLK Sulsel, yang wafat pada tanggal 15 Maret 2015 di Makassar, dan dimakamkan pada tanggal 16 Maret 2015 di kampung halamannya, Pundata Baji kecamatan Labbakkang kabupaten Pangkep. Tulisan ini adalah materi presentasi almarhumah yang akrab disapa kak Zohra, dalam rangkaian seri lokakarya LSM se-Sulawesi dan Kalimantan di kota Manado.
17 Mar 2015
Obituari Kak Zohra
MEMAKNAI RIWAYAT
![]() |
| zohra andi baso (1952-2015) http://wikipeacewomen.org/wpworg/en/wp-content/uploads/sites/2/2015/09/1269.jpg |
Ada yang sedang
Menanggalkan pakaianmu satu persatu
Mendudukkanmu di depan cermin dan
Membuatmu bertanya...
Tubuh siapa kah gerangan yang
kukenakan ini?
Ada yang sedang diam-diam
Menulis riwayat hidupmu
Menimbang-nimbang hari lahirmu dan
Mereka-reka sebab-sebab kematianmu
.
.
Puisi karya
Sapardi Djoko Damono (Hujan Bulan Juni, 1990) sering dinyanyikan mahasiswa
fakultas Sastra Unhas. Suatu masa, dimana aktivis kampus menggandrungi filsafat
dan kajian seni. Di masa itu pula dinamika gerakan mahasiswa dan
masyarakat sipil menguat. Kelompok-kelompok studi dan penerbitan menjadi
alternatif gerakan mahasiswa. Di luar kampus, advokasi atau pembelaan atas hak
universal warga dimotori NGO/LSM. Sebut di antaranya adalah YLKI Sulsel, YLBHI Makassar,
WALHI, dan AMAN. LSM-LSM ini bisa menjelaskan riwayat Zohra Andi Baso, yang akrab dipanggil Karaeng
Intang atawa kak Zohra. Riwayat perjuangan organisasi masyarakat sipil di
Indonesia, apatah lagi di Makassar telah mencatat almarhumah kak Zohra sebagai pejuang advokasi HAM.
Saya
beruntung mengenal dan bekerja bersama kak Zohra di awal tumbuhnya kebebasan berpendapat dan
berserikat. Sesuatu yang sulit di masa kuatnya politik stabilitas Orde Baru.
Sekedar mengingat peran kak Zohra di balik perisriwa penting tahun 90-an, di antaranya; Mimbar Golput mahasiswa Unhas, Pertemuan Nasiomal Walhi II di makassar, aksi jaringan mahasiswa anti
nuklir (Jaman) di konsulat jepang, aksi menentang pembredelan Tempo, pengungkapan kasus
200 buruh perempuan di perkebunan kopi yang terpapar pestisida. Hingga momentum
aksi massa reformasi 1998. Peran kak Zohra tidak sebatas pendorong gerakan,
juga jaringan informasi, dan negosiator yang handal. Lebih dari itu dia adalah
pembela masyarakat marjinal yang total hingga di usia senjanya.
Tidak banyak
aktivis perempuan LSM yang tetap konsisten bicara lantang di hadapan pejabat
tentang kesetaraan dan demokrasi. Dikenal suka memprotes blak-blakan. Tetapi,
menjaga relasi sosial dengan pihak-pihak yang ditentangnya. Karakter aktivis
ini yang menjadi tauladan para pegiat gerakan advokasi pasca reformasi. Berbeda
pendapat, tidak bermusuhan. Mengkritik dilandasi maksud baik. Aksi jalan bukan
satu-satunya cara mencapai tujuan.
Begitu lah
pesan moral yang ditunjukkan kak Zohra dalam ucapan dan tindakan sepanjang karirnya.
Laiknya membaca puisi, memahami keberadaan seorang tokoh cerita,
problematiknya, cita-cita dan tujuan hidupnya, barulah terasa utuh bermakna di
akhir pembacaan itu. Demikian halnya kematian, bukan hanya haru biru. Di
dalamnya senantiasa melahirkan makna baru. Selamat jalan kak Zohra. Kami ikhlas
melepasmu (M. Nawir, mantan pengurus YLK
Sulsel, 1992-2002). (dimuat Tribun Timur Mks, 16 Maret 2015)
7 Jan 2015
PARALEGAL PENGGERAK KOMUNITAS: Catatan Reflektif Pengorganisasian Komunitas
M. Nawir
Bahasa
Indonesia kesulitan mendefinisikan kata paralegal.
Sejauh yang diketahui, paralegal merujuk pada subjek dan kegiatan yang
menyertai profesi kepengacaraan. Seorang paralegal diposisikan sebagai
“pembantu” pengacara, laiknya hubungan paramedis dengan dokternya. Pengertian
ini merujuk pada praktik paralegal yang dikembangkan organisasi bantuan hukum
di beberapa negara maju.






