21 Mei 2020

"Berdamai" dan "New Normal" dari Perspektif Pengurangan Risiko Bencana (PRB)

M. Nawir
Tulisan ini hendak memperkaya cara pandang terhadap epidemi/pandemi Covid 19 sebagai kejadian bencana (kesehatan). Berbekal pengalaman praktis bekerja-berkolaborasi di wilayah bencana alam dan sosial, penulis bersikap kritis terhadap pernyataan presiden Joko Widodo perihal “Berdamai” dan “New Normal” dalam menghadapi pandemi Covid 19. Reaksi publik terhadap kedua istilah tersebut dapat dibaca di media sosial (klik. https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5015469/mungkinkah-berdamai-dengan-corona/2; https://newsmaker.tribunnews.com/2020/05/29/populer-fakta-new-normal-di-indonesia-dari-definisi-penerapan-hingga-kritikan-sejumlah-pihak).

28 Jan 2020

METAMORFOSIS SHAIFUDDIN BAHRUM

M. Nawir[1]
….
Ada yang sedang diam-diam
menulis riwayat hidupmu
Menimbang-nimbang hari lahirmu dan
Mereka-reka sebab-sebab kematianmu [2]
Petikan sebait puisi di atas adalah metafor dari suatu peristiwa kematian. Bahwa, setiap makhluk bernyawa akan mati, dan kematian seseorang sudah ditentukan oleh sang penciptaNya, demikian pernyataan seorang penceramah tazqiratul maut.

22 Des 2019

Selayang Pandang Partisipasi dan Pengorganisasian (Bagian II)

Buku Seri: Pengalaman Partisipasi Masyarakat 
Arkom Makassar dan Litbang PUPR Provinsi Sulsel
M. Nawir
Arsitek Pendamping Masyarakat
Konsep pendampingan masyarakat terakomodasi dalam Undang-Undang Arsitek Nomor 6 Tahun 2017. Pada Pasal 4 (c), salah satu bentuk layanan arsitek (non-teknis) adalah pendampingan masyarakat dan bermitra dengan kelompok lainnya.
Penjelasan mengenai arsitek pendamping masyarakat merujuk pada banyak praktik community architect sesuai dengan subjek yang melakukannya. Misalnya, proyek perkotaan dan perdesaan yang dibiayai Bank Dunia (P2KP, PNPM, Kotaku) melibatkan arsitek sebagai tenaga profesional pendamping masyarakat. Mereka yang bekerja secara mandiri menyebut diri sebagai “arsitek telanjang kaki” (barefoot architect) yang lebih menekankan aspek praktiknya.
Pendekatan Community Architect[1] (CA) merupakan pengembangan dari Community Barefoot Architect (CBA) yang dipraktikkan di Amerika dan Inggris (RIBA) tahun 70-an. Pada pertemuan Union International of Architect (UIA) di Jakarta (1979), salah satu model CBA yang menjadi rujukan adalah karya John Turner, Black Road Project di Amerika. Karya ini mewakili pendekatan yang inovatif dari perspektif arsitektur komunitas. Peran arsitek sebagai anggota masyarakat adalah penggerak dan pendidik yang membantu warga memperbaiki lingkungan hidup mereka sendiri. Transfer teknologi menjadi bagian dari proses dalam desain dan rekonstruksi masyarakat.

Selayang Pandang Partisipasi dan Pengorganisasian (Bagian I)

Buku Seri 2: Pengalaman Partisipatoris Masyarakat
Arkom Makassar dan Litbang PUPR Provinsi Sulsel
M. Nawir
Prolog
Sejak kapankah kita terbiasa menggunakan kata partisipasi? Seorang aktivis LSM[1] menjawab pertanyaan ini dengan kisah pengalamannya mengkampanyekan agenda pembangunan berkelanjutan (sustainable development)[2]. Sedangkan seorang arsitek muda mengenal istilah partisipasi dari seniornya yang mengajarkan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA)[3].
Pengalaman pertama memahami partisipasi sebagai salah satu prasyarat dalam perencanaan pembangunan. Tanpa partisipasi, suatu produk perencananaan pembangunan dinilai cacat prosedural. Misalnya, keputusan hasil Musrenbang mensyaratkan persetujuan peserta, dibuktikan dengan kehadiran, dan berita acara. Sementara kualitas kehadiran diukur dari intensitas keterlibatan warga dalam diskusi membahas dan memecahkan masalah, mengambil keputusan hingga menentukan skala prioritas kegiatan.
Pengalaman kedua memahami partisipasi dalam praktik perencanaan berbasis masyarakat. Selain mensyaratkan partisipasi warga pada semua tahapan pembangunan, diperlukan teknik penggalian informasi yang tepat. Metode PRA menyediakan teknik pelibatan warga dalam pembahasan dan pengambilan keputusan terhadap masalah maupun potensi yang dialami dan dimiliki warga sendiri. Kapasitas warga adalah narasumber sekaligus pelaku utama perencanaan. Sementara pihak lain sebagai narahubung dan fasilitator, yang berperan melancarkan alur dan merumuskan hasil-hasil diskusi. Demikian etika dalam perencanaan partisipatoris.

9 Jul 2019

LATOA, Transformasi Nilai Budaya Politik Orang Bugis



M. Nawir
Latoa, Satu Lukisan Analitis Terhadap Antropologi Politik Orang Bugis adalah judul buku karangan Mattulada[1], yang diterbitkan pertama kali oleh Gajah Mada University Press (1985). Buku ini merupakan disertasi Mattulada untuk memperoleh gelar Doktor Antropologi di Universitas Indonesia tahuh 1975.
Tidak banyak tulisan yang mengulas latar-hidup Mattulada dan isi bukunya ini. Hal yang berbeda dengan tulisan tentang profil cendekiawan-budayawan Bugis lainnya seperti Profesor Andi Zainal Abidin Farid. Sejauh yang terpantau, profesor Mattulada dikenal sebagai cendekiawan kritis. Ada penulis yang menyebut beliau, pejuang, penentang Westerling. Satu di antaranya Dahlan Abu Bakar, wartawaan senior, alumni Fakultas Sastra Unhas, yang bersaksi bahwa Mattulada berani menyebut Indonesia masa pemerintah Orde Baru adalah “Negara Pejabat”; sikap kritis yang jarang dicetuskan oleh para budayawan-cendekiawan Sulsel pada masa itu. Mungkin karena hal itu pula pak Mat, begitu panggilan akrabnya, nyaris tidak pernah memperoleh penghargaan[2]
Latoa, demikian penyebutannya, melukiskan sistim nilai dan wujud budaya politik orang Bugis[3]. Naskah Latoa tergolong dalam jenis Lontara’, yang membedakannya dengan naskah Sure’ Galigo. Naskah ini menandai periode sejarah masyarakat Sulawesi Selatan, dimulai sekitar abad XIII hingga abad XVIII. Tokoh-tokoh utama di dalamnya merupakan para raja dan rakyat yang hidup dalam suatu sistim demokrasi-monarki. Latoa sendiri diangkat dari peranan seorang bagi penasihat raja Bone, yakni Kajaolaliddo.

17 Jan 2019

Korespondensi Antropologi, Arkeologi, Seni dan Arsitektur

Timothy Ingold, Antropolog Inggris, kelahiran 1 Nopember 1948. Ayahnya adalah seorang ahli mikologi, Cecil Terence Ingold. Dia dididik di Leighton Park School di Reading, Inggris. Awalnya ia belajar ilmu alam, kemudian beralih ke antropologi. Ia menerima gelar BA pada tahun 1970 dalam bidang Antropologi Sosial dari Universitas Cambridge. Antara tahun 1973-74, ia menjadi dosen Antropologi Sosial di Universitas Helsinki, Finlandia. Gelar doktor diterima dari Universitas Manchester (1990), dan pada tahun 1995 menjadi Profesor Ilmu-ilmu Sosial Max Gluckman. Adapun gelar doktor kehormatan diberikan oleh Leuphana University of Lüneburg Jerman (2015). Saat ini ia menjabat Ketua Jurusan Antropologi Sosial di Universitas Aberdeen, Inggris sejak tahun 1999.
Sebagai pakar antropologi-ekologi, Tim Ingold memulai studi doktoralnya di bidang etnografi  pada tahun 1971-1972, dan menghasilkan monograf The Skolt Lapps Today (1976). Karya ilmiah ini mempelajari adaptasi ekologis, organisasi sosial dan politik etnis minoritas Skolt Saami yang bermukim di timur laut Finlandia pasca perang. Studi ini berlanjut tahun 1979-1980; Ia mengkaji secara komparatif perburuan, penggembalaan dan peternakan rusa atau caribou sebagai cara-cara alternatif dari mata pencaharian etnis non-Saami di distrk Salla Finlandia utara. Hasil studi ini diterbitkan dalam buku Hunters, Pastoralists and Ranchers: Reindeer Economies and Their Transformations (1980), yang mengungkap keterkaitan pertanian, kehutanan dan penggembalaan rusa sebagai mata pencaharian etnis lokal dengan intensitas depopulasi pedesaan, dan efek jangka panjangnya.

27 Des 2018

Arsitek dan Sosial Urbanis Jerman

Leon Krier[1] 
(Dikutip dan diringkas dari Wikipedia dan Buku The Architecture of Community)
 https://www.archinform.net/arch/3423.htmh
Léon Krier (Luxemburg, 7 April 1946), arsitek perencana, ahli teori arsitektur Urbanisme Baru dan Klasik Baru adalah adik kandung dari arsitek Rob Krier. Atas karya=karya arsitekturnya, Krier memperoleh Penghargaan Arsitektur Driehaus pada tahun 2003. Leon Krier menyelesaikan studi arsitektur di Universitas Stuttgart, Jerman, tahun 1968. Setelah tamat, ia bekerja selama tiga tahun di kantor arsitek James Stirling, London. Krier kemudian berlatih dan mengajar di Architectural Association dan Royal College of Art selama 20 tahun. Pada periode ini, Krier dikenal dengan pernyataan sikapnya yang anti-modernisme: I am an architect, because I don’t build.[2] Antara tahun 1987-1990, Krier menjabat direktur pertama SOMAI, Skidmore, Owings & Merrill Architectural Institute, Chicago. Pada masa yang sama, Krier menjadi desainer industri untuk Giorgetti[3] & Valli e Valli - Assa Abloy, sebuah perusahaan furnitur Italia.

26 Des 2018

Refleksi Tiga Bulan Pasca Bencana Sulteng

 
Arsitektur Pengorganisasian Penyintas Pascabencana[1]
Oleh
M. Nawir[2]
Pengantar
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam dan/atau faktor non-alam maupun faktor manusia, sehingga mengakibatkan korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis (UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana);
Penanggulangan Bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat dan rehabilitasi (Perka BNPB No. 14 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana). Program rehabilitasi dan rekonstruksi termasuk dalam ketentuan mengenai penyelenggaraan penanggulangan pascabencana.
Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat. Adapun Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayah pascabencana pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, serta bangkitnya peran serta masyarakat.
Penyelenggaraan rehabilitasi dan rekonstruksi dijabarkan ke dalam dua jenis kegiatan, yaitu konstruksi dan non-konstruksi. Kegiatan Konstruksi adalah pemulihan dan pembangunan fisik yang rusak akibat bencana yang mengandung unsur kegiatan mitigasi dan pengurangan risiko bencana, dan; kegiatan Non-konstruksi adalah pemulihan dan pembangunan kembali sendi kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang hilang dan/atau rusak akibat bencana. Pertanyaan simpel, bagaimana memulai proses pemulihan dan pembangunan kehidupan pascabencana?