24 Jun 2022

Prolog Buku "Air Mati Perikanan"

Kemajuan atau kah Kemunduran Pendekatan?
M. Nawir
“di atas kelompok teori kita membangun mazhab; di atas kelompok nilai kita membangun budaya”[1]

Berbeda dengan tulisan Idham pada buku sebelumnya, problematika perikanan budi daya, khususnya pertambakan kali ini dihadirkan secara faktual disertai data, argumentasi dan gagasan alternatif pendekatannya. Buku sebelumnya, Perikanan atau Perikiri (2021) semacam antitesis yang menegaskan sudut pandang (point of view) Idham dalam kancah pemberdayaan perikanan budi daya bahwa “sisi tersembunyi sama pentingnya dengan sisi yang mengemuka”, yakni perikiri. Idham menegaskan problem dasar petambak adalah ketimpangan penguasaan lahan, dan karena itu dia berasumsi bahwa jalan reforma agraria adalah solusinya.

19 Jan 2022

RTG, Mitigasi Pasca Gempa

United Nations International Strategy for Disaster Reduction (UN-ISDR), badan PBB urusan kebencanaan mengelompokkan lima jenis potensi bencana alam, yaitu; (1) Bahaya geologi (geological hazards); (2) Bahaya hidrometeorologi (hydrometeorological hazards); (3) Bahaya biologi (biological hazards); (4) Bahaya teknologi (technological hazards), dan (5) Penurunan kualitas lingkungan (environmental degradation).

Catatan dari Mamuju Setahun Pasca Gempa

 
 https://www.youtube.com/watch?v=mgloNkQXvB4
Dalam dua bulan terakhir, BMKG melaporkan empat kali gempa bermagnitudo 5-7 di Maluku, Flores, dan Jember yang berdampak kerusakan dan korban jiwa. Sehari sebelum setahun pasca gempa di Sulawesi Barat, gempa 6,7 SR terjadi di Sumur Banten, getarannya membuat panik warga di Jakarta. Pada hari Jumat, 14 Januari 2022 itu saya baru tiba di Mamuju, dan sedang bercakap dengan dua teman aktivis mengenai berita Radar Sulbar yang merilis dugaan “pemotongan” dana rehab-rekon hunian tetap (huntap) oleh BPBD.

25 Des 2021

Tantangan Pemajuan Budaya Ekologis

 
Judul: Panduan Pembelajaran Budaya Ekologis Masyarakat Adat To Cerekang
Penulis: Andi M. Akhmar dkk
Tebal: 150 halaman
Penerbit: FIB Unhas kerjasama Pemkab Lutim
Tahun: 2021

Paradigma baru pemajuan kebudayaan menjadi topik utama dalam Kongres Kebudayaan Indonesia 2018. Kongres ini merumuskan tujuh tantangan kebudayaan nasional dalam situasi perubahan global, yaitu: (1) Pengerasan identitas primordial dan sentimen sektarian (SARA); (2) Meredupnya khazanah tradisi dalam gelombang modernitas; (3) Disrupsi teknologi informatika belum dipimpin oleh kepentingan konsolidasi kebudayaan nasional; (4) Pertukaran budaya global yang timpang menjadikan Indonesia sebagai konsumen budaya dunia; (5) Pembangunan berbasis ekonomi-politik mengakibatkan penghancuran lingkungan hidup dan ekosistem budaya; (6) Belum optimalnya tata kelembagaan bidang kebudayaan; (7) Desain kebijakan belum memudahkan masyarakat untuk memajukan kebudayaannya.

19 Jul 2021

Wawas Diri di Masa Pandemi

Idham Malik (Subaltern, 2021)

Prolog oleh Awi MN

 Pandemi bukan penghalang untuk menulis karena imajinasi tidak bisa dikurung (SDD, Juli 2020)[1]

Sewaktu Idham menulis kumpulan tulisan ini antara April – Juni 2020, situasi lengang di jalan raya, fasilitas umum, perkantoran, pusat perbelanjaan, bandara. Statistik infeksi corona di dunia yang dia tulis masih berkisar 730.000 kasus, dan sekitar 34.000 kematian. Pada periode yang sama di Indonesia masih 6.000 kasus corona dengan kematian di atas 500 orang. Pada saat pengantar tulisan ini diketik, PPKM darurat sedang diberlakukan. Sebanyak 223 negara terpapar corona, 191.773.590 terkonfirmasi, serta 4.127.963 orang tewas. Di Indonesia sebanyak 3.033.339 orang terpapar corona, dan 79.032 meninggal.[1] Dalam tempo setahun saja (Maret 2020 – Pebruari 2021), rata-rata kasus kematian di Indonesia atau ekses mortalitas pandemi corona adalah 2,1%, yakni 36.325 per-1.75 juta[2]. Persentase kematian ini bertambah sejak Maret-April 2021 seiring dengan varian baru corona dan arus mudik, menjadi 2,71%, lebih tinggi dari persentase kematian dunia 2,22%.[3]

14 Jul 2021

Daya Sintas Buruh dan Kaum Miskin Kota

M. Nawir[1]

“Alhamdulillah, selama ada corona, laris jualanku, banyak yang beli jahe, sereh, temu lawak, kelapa muda, beras merah, gula merah, putu cangkiri, nasi kuning, madu, telur ayam, bebek, minyak gosok, dan kembang-kembang. Sebelum corona kurang-kurang pembeliku. Kenapa baru begitu, kenapa tunggu corona, padahal itu semua makanan sehat alami?”